News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Medsos, Berkah atau Malapetaka?

Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dr Drs H Sumaryoto Padmodiningrat, Mantan Anggota DPR RI.

Adapun medsos yang paling banyak 'ditongkrongi' oleh pengguna internet Indonesia dari paling teratas adalah YouTube, WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, Line, FB Messenger, LinkedIn, Pinterest, We Chat, Snapchat, Skype, Tik Tok, Tumblr, Reddit, dan Sina Weibo.

Pedang Bermata Dua

Seperti pedang bermata dua, medsos dapat memberikan dampak positif bagi orang yang menggunakannya dengan baik, baik bagi pribadi, keluarga, maupun katakanlah perusahaan.

Di sinilah medsos menjadi berkah.

Namun, medsos juga dapat berdampak negatif jika digunakan untuk tujuan negatif dan menyimpang.

Maka kemudian muncullah adagium, "jemarimu harimaumu", dari pepatah "mulutmu harimaumu". Di sinilah medsos menjadi malapetaka.

Mereka yang menggunakan medsos untuk tujuan negatif antara lain melalui penyebaran hoaks atau berita bohong.

Penyebaran hoaks ini sangat masif pada masa kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dan Pilpres 2019.

Tidak itu saja, di masa pandemi Covid-19 ini penyebaran hoaks melalui medsos juga masih marak.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menemukan sedikitnya 554 hoaks terkait virus corona di tengah pandemi Covid-19 ini. Berita-berita bohong tersebut tersebar di 1.209 platform digital.

Isu hoaks tersebut tersebar di Facebook sebanyak 834 kasus, Instagram 10 kasus, Twitter 350 kasus, dan Youtube enam kasus.

Sebanyak 1.209 saluran digital tersebut telah dilaporkan ke aparat penegak hukum. Adapun sebanyak 893 kasus telah ditindaklanjuti atau diblokir, sedangkan 316 kasus masih dalam proses.

Kini, keberadaan medsos sudah berhasil menggeser bahkan mengalahkan media massa seperti surat kabar, majalah, televisi, radio dan media massa berbasis internet atau online.

Bahkan banyak industri surat kabar dan majalah yang terpaksa gulung tikar karena ditinggalkan pembaca.

Mengapa medsos lebih eksis daripada media massa? Sebab, konten atau isi medsos lebih variatif dan menarik daripada media massa.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini