Pekerjaan besar nan berat ini adalah langkah awal bagi Gus Yaqut untuk layak disebut "Kuda Hitam" Nahdliyyin pada Pilpres 2024 nanti. Sebaliknya, bila gagal tercapai kesepakatan internal antara GP Ansor, PKB dan NU, peluang Gus Yaqut harus turun satu anak tangga; dari RI 1 ke RI 2.
Pada saat semacam itu, koalisi dengan partai-partai nasionalis memiliki makna berbeda. Minimal inilah indikator jika NU, GP Ansor dan PKB tidak menemukan titik terang. Puncaknya, kita akan melihat pasangan Puan-Yaqut atau Ganjar-Yaqut sebagai yang paling rasional. Ini akan mengulangi pengalaman Jokowi-Ma'ruf Amin.
Di luar soal politik dan kekuasaan, secara personal, figur Gus Yaqut memang ideal. Penulis melihat itu dari kemampuannya dalam menarik hati kalangan nahdiyyin, nonmuslim, minoritas, serta nasionalis.
Skill merangkul kelas-kelas sosial-politis yang beragam ini tidak banyak dimiliki tokoh lain. Pribadi yang mampu berbuat begitu sudah pasti ladang subur yang selalu diperebutkan semua pihak. Melalui pribadi Gus Yaqut, warga Nahdliyyin tidak saja memiliki sosok Menag Semua Agama, tetapi Kuda Hitam di Pilpres 2024 nanti. Wallahu a'lam bis Showab !
*Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon.
Baca tanpa iklan