News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Filateli

Arsip Cetakan Prangko: Tidak Tua, Tetapi Sangat Langka

Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Berbagai variasi benda filateli termasuk yang salah cetak (misprint).

Oleh: Gilang Adittama *)

MUNGKIN semua orang mengetahui bentuk dan fungsi prangko bahkan memiliki kepercayaan bahwa prangko tua adalah barang langka nan mahal.

Sayangnya, sedikit sekali orang memahami tahapan pencetakan penerbitan sebuah prangko.

Para filatelis punya rasa penasaran sangat besar sehingga tidak puas hanya dengan mengoleksi prangko.

Dengan berbagai upaya mereka melakukan penelusuran untuk mengidentifikasi benda–benda terarsipkan dalam proses penerbitan prangko.

Saat ini di kalangan filatelis, baik exhbitor maupun non-exhibitor, dikenal beberapa istilah seperti artwork, essay, proof, dan specimen.

Berbagai sebutan mulai dari ‘top rarity’, ‘world status’, hingga ‘barang sakti’ seringkali disematkan pada benda-benda tersebut karena tingkat kepentingan dan kelangkaannya.

Proses penerbitan sebuah prangko bermula dari terciptanya ‘artwork’.

Biasanya artwork merupakan karya seorang pelukis yang ditunjuk oleh dinas pos untuk mendesain prangko dengan tema tertentu.

Prangko terbitan Monaco dengan gambar kolektor yang sedang menekuni albumnya. (Foto Gilang Adittama)

Si pelukis boleh membuat lukisan dengan berbagai media dan jenis cat seperti cat air pada kertas tebal atau cat minyak pada cardboard.

Karena hanya ada satu artwork untuk satu penerbitan, maka benda ini bernilai sangat tinggi jika sampai masuk ke pasar.

Sebuah artwork dari prangko modern biasanya dihargai sekitar lima sampai dua puluh juta rupiah.

Jika artwork modern saja sudah begitu mahal, maka tidaklah mengejutkan jika artwork prangko klasik sebelum tahun 1940-an seringkali dibanderol minimal tiga puluh juta rupiah dan mungkin saja terjual seharga miliaran.

Pada tahap kedua, muncul suatu benda bernama ‘essay’ yang merupakan cetakan percobaan dengan desain yang masih belum resmi disetujui dinas pos.

Di pasaran terdapat dua jenis essay, yaitu photo essay dan publicity essay.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini