News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Pentingnya Komunikasi Interpersonal ASN

Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sejumlah peserta Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) mengikuti tahapan sebelum mengikuti ujian Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) berbasis komputer di Telkom University, Jalan Telekomunikasi, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Baart, Senin (20/9/2021). SKD CASN Kabupaten Bandung 2021 yang diselenggarakan dari 17 - 23 September tersebut diikuti 8.562 peserta yang akan memperebutkan 490 formasi. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN)

Oleh: Roni Wijaya*)

TRIBUNNEWS.COM - Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain agar orang lain yang menerimanya mengerti dan melakukan apa yang dimaksud dalam informasi tersebut.

Dalam konteks hubungan orang per orang, bentuk komunikasi yang terjadi adalah komunikasi interpersonal.

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antarpribadi. Komunikasi ini juga dapat diartikan sebagai proses pertukaran makna dari orang yang saling berkomunikasi antara satu individu dengan individu lainnya.

Komunikasi interpersonal akan memberikan warna tersendiri terhadap iklim sebuah organisasi yang ditandai dengan adanya tanggung-jawab, komitmen, kerjasama tim, dan inisiatif kerja yang tinggi.

Komunikasi interpersonal juga sangat penting.

Dikutip dari wikipedia untuk meningkatkan hubungan baik antar individu, menghindari dan mengatasi konflik pribadi, mengurangi ketidakpastian, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain.

Baca juga: Bukan Cuma Komunikasi, Ini Cara Mengelola Kecemburuan pada Pasangan

Selain itu juga berguna untuk mengendalikan perilaku, memberi motivasi, sebagai pernyataan emosi, dan memberikan suatu informasi.

Dalam Djamaris (2013: 7), National Association of Colleges and Employers (NACE) telah melakukan survei mengenai kemampuan yang diharapkan dalam dunia kerja menurut kepentingannya.

Baca juga: Rumahtangga di Ujung Tanduk, Ririn Dwi Ariyanti dan Aldi Bragi Tetap Komunikasi Demi Anak

Dari 20 kritera yang diharapkan, kemampuan komunikasi memiliki bobot tertinggi yaitu 4,69 dalam skala 5 disusul kemudian aspek kejujuran/integritas (4,59), kerjasama (4,54), kemampuan interpersonal (4,5). Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) berada pada urutan ke 17 dengan skor 3,68.

Baca juga: Komunikasi Persuasif: Pengertian, Tujuan, dan Strategi

Selain itu diadaptasi dari Lie, dkk (2017: 1500) penyebab kesuksesan seseorang hanya 20% oleh kecerdasan intelektualnya (IQ) dan 80% merupakan bagian dari faktor pendukung lainnya, termasuk kecerdasan emosi (soft skills) antara lain kemampuan komunikasi, kreatifitas, adaptasi, kerjasama, kepemimpinan, percaya diri.

Lalu bagaimana mengaktualisasikan kemampuan komunikasi interpersonal agar dapat menciptakan iklim organisasi dan baik yang harmonis?

Dikutip dari Vensy, dkk. (2014: 6), beberapa aspek penting yang mendukung keberhasilan komunikasi interpersonal, yaitu:

1. Rasa Percaya. Dengan adanya rasa percaya ini menjadikan orang lain terbuka dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya terhadap individu, sehingga akan terjalin hubungan yang akrab dan berlangsung secara mendalam.

2. Sikap Suportif. Yang akan tampak dalam sikap ini adalah sebagai berikut:

a. Deskripsi, artinya penyampaian perasaan dan persepsi tanpa menilai.

b. Orientasi masalah adalah mengkomunikasikan keinginan untuk bekerja sama mencari pemecahan masalah.

c. Spontanitas, yaitu sikap jujur dan tidak mau menyelimuti motif yang terpendam.

d. Empati adalah merasakan apa yang dirasakan orang lain.

e. Persamaan adalah sikap yang menganggap sama derajatnya, menghargai dan menghormati perbedaan pandangan dan keyakinan yang ada.

f. Profesionalisme adalah kesediaan untuk meninjau kembali pendapatnya dan bersedia mengakui kesalahan.

3. Sikap Terbuka. Sikap terbuka amat besar pengaruhnya dalam berkomunikasi yang efektif. Adapun karakteristik orang terbuka, sebagai berikut:

a. Menilai pesan secara objektif.

b. Berorientasi pada isi.

c. Mencari informasi dari berbagai sumber.

d. Lebih bersifat profesional dan bersedia merubah kepercayaan.

e. Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaan.

Hubungan Baik dan Penilaian Perilaku ASN

Aparatur Sipil Negara(ASN) setiap akhir tahun dituntut menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan sasaran kerja yang dirancangnya pada awal tahun.

Sasaran-sasaran kerja yang direncanakan seyogyanya merupakan hasil cascading dari sasaran/indikator pencapaian tujuan organisasi yang diurai secara berjenjang.

Ketentuan tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil. Berdasarkan PP 46/2011, atasan langsung yang melakukan penilaian atas penyelesaian setiap sasaran kerja bawahannya.

Selain sasaran kerja, atasan langsung juga menilai perilaku bawahannya. Aspek prestasi kerja dinilai memiliki bobot 60% sementara aspek perilaku 40 persen.

Aspek perilaku sendiri terdiri dari orientasi pelayanan, integritas, komitmen, disiplin, kerjasama, dan kepemimpinan.

Ditinjau dari sifatnya, sasaran kerja memiliki indikator yang jelas dan bukti fisik yang dapat dipertanggung-jawabkan sehingg atasan langsung sebagai penilai dapat melakukan penilaian secara objektif.

Lain halnya dengan aspek perilaku, penilai akan cenderung lebih subjektif karena aspek perilaku berkaitan dengan tingkah laku, sikap atau tindakan yang dilakukan oleh PNS antara lain tentang kesopanan, kejujuran, keikhlasan, tanggung-jawab, ketegasan, kerjasama, dan sejenisnya.

Subjektfitas tersebut tentu saja salah satunya dipengaruhi oleh hubungan baik secara personal antara ASN dengan atasan langsungnya.

Jika ASN dapat menjaga hubungan baik dengan atasan langsungnya, maka nilai perilaku baik dapat saja diperoleh dengan mudah meskipun atasannya memiliki catatan tentang integritas dan kepemimpinan yang biasa-biasa saja. Sebaliknya, atasan langsung bisa saja menilai perilaku kurang baik hanya karena permasalahan yang tidak dapat dikomunikasikan dengan baik secara interpersonal.

Saat ini PP 46/2011 sudah diperbaiki dengan PP 31/2019 tentang Penilaian Kinerja Pegawai Negeri Sipil pada tanggal 26 April 2019.

Salah satu perubahan mendasar adalah dalam pola penilaian perilaku dimana perilaku setiap ASN tidak hanya dinilai oleh atasan langsung tetapi juga oleh rekan kerja, dan bawahannya.

Dengan begitu menurut penulis cukup tepat karena subjektifitas penilaian dapat dibiaskan oleh banyaknya penilai.

Tetapi pola penilaian seperti itu masih dalam tahap penyesuaian, setidaknya paling lambat pada tanggal 27 April 2024 harus diterapkan di seluruh instansi pemerintah.

Dari uraian tersebut disimpulkan bahwa ASN sudah seharusnya kita menjaga hubungan yang harmonis dengan atasan, bawahan, rekan kerja, atau bahkan masyarakat luar melalui komunikasi interpersonal yang baik dan efektif. Hal tersebut agar tercipta suasana kerja yang nyaman, penuh tanggung-jawab, kerjasama tim yang solid, inisiatif kerja yang tinggi sehingga pada akhirnya tujuan organisasi dapat tercapai.

Di sisi lain komunikasi interpersonal dengan masyarakat luas akan membentuk citra baik di mata masyarakat karena ASN identik dengan label organisasi dimana dia bertugas.

Disamping itu hubungan baik dengan atasan, bawahan, maupun rekan kerja mau tidak mau harus dibina karena menentukan nasib jenjang karir ASN yang bersangkutan.

*) Penulis sehari-hari bekerja sebagai Pranata Humas Muda di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini