News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

George Soros dan Narasi ‘Antek Asing’ di Indonesia

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

GEORGE SOROS - 
Nama George Soros kembali jadi sorotan, narasi ‘antek asing’ dipakai delegitimasi kritik sipil terhadap pemerintah

NAMA George Soros kembali ramai diperbincangkan. Di tengah gelombang kritik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran dan maraknya gerakan sipil di berbagai kota, narasi tentang “antek-antek asing” kembali berseliweran di media sosial dan ruang-ruang diskusi politik.

Kasus penyiraman air keras oleh oknum TNI  terhadap Andrie Yunus (Wakil Koordinator KontraS) memperkuat irisan isu-isu dimaksud. 

Dokumen-dokumen yang diklaim sebagai bukti aliran dana dari Open Society Foundations (OSF) milik Soros ke sejumlah LSM, yayasan, dan universitas di Indonesia beredar luas. Meski tak ada pernyataan resmi dari Istana yang secara eksplisit menyebut nama Soros, wacana “intervensi kekuatan global” terus dimainkan untuk mendelegitimasi gerakan oposisi dan aktivisme sipil. Pertanyaannya, benarkah George Soros dan Yayasannya membiayai gerakan sipil dan oposisi Pemerintah?

Gagasan “Open Society” yang melekat dengan nama George Soros, bukanlah produk Wall Street. Ia lahir dari pergumulan intelektual seorang filsuf Austria-Inggris bernama Karl Popper yang kemudian diikuti dengan setia oleh George Soros.

Dalam magnum opus-nya, The Open Society and Its Enemies (1945), Popper menyerang habis-habisan apa yang ia sebut sebagai masyarakat “tertutup”, yakni rezim-rezim otoriter yang mengklaim memiliki kebenaran mutlak, menolak kritik, dan menindas kebebasan berpikir.

Bagi Popper, masyarakat terbuka adalah masyarakat yang mampu mengkritik dirinya sendiri, yang institusi-institusinya dapat diperbaiki dan dikoreksi, yang warganya bebas menyatakan pendapat tanpa ancaman persekusi. 

Dari tesis Popper inilah Soros mengadopsi dan mendirikan Yayasan sebagai instrumen gerakan. Sebagai seorang Yahudi yang lolos dari Holocaust dan kemudian kabur dari komunisme Hungaria, Soros merasakan sendiri betapa dahsyatnya akibat masyarakat “tertutup”.

Tahun 1979 Soros mendirikan Open Society Foundations, sebuah jaringan filantropi global yang hingga kini telah menggelontorkan lebih dari 20 miliar dolar AS untuk mendanai kebebasan pers, pendidikan, hak asasi manusia, dan tata kelola pemerintahan yang transparan di lebih dari 120 negara.

Proyek Ideal, Tapi Penuh Kontroversi?

Proyek open society tidak berjalan tanpa hambatan. Di mana pun gagasan ini berpijak, ia selalu berhadapan dengan resistensi dari kekuatan yang merasa terancam oleh transparansi dan akuntabilitas.

Proyek Soros tak sepi dari tantangan dan ancaman, terutama dari rejim-rejim yang merasa terganggu. Negara-negara yang telah menentang gerakan open society-nya Soros berasal dari sejumlah negara.

Di Hungaria, misalnya, Viktor Orbán mengusir Central European University yang didanai OSF dari Budapest pada 2019 dan menjadikan Soros sebagai “musuh publik” nasional, demi untuk tujuan merebut pemilih dalam sentimen anti-Barat. Vladimir Putin lebih dulu melarang OSF beroperasi di Rusia sejak 2015 dengan tuduhan aktivitas “yang tidak diinginkan”.

Di India, pemerintah Modi memperketat regulasi terhadap LSM penerima dana asing, membungkam banyak organisasi yang selama ini menjadi pengawal hak asasi dan kebebasan sipil. Pola yang berulang ini mengungkap sebuah logika, yaitu bahwa pemerintahan yang gerah terhadap kritik domestik menemukan musuh yang nyaman dalam figur Soros, seorang kapitalis, Yahudi, dan kosmopolitan sekaligus, untuk mendelegitimasi oposisi tanpa harus menjawab substansi kritik itu.

Perlu dicatat dan ini yang menarik, Soros tidak pernah menjadikan identitas Yahudinya sebagai perisai dari kritik. Ia justru secara terbuka mengecam kebijakan Israel atas Palestina, termasuk pendudukan dan serangan militer yang menewaskan warga sipil Gaza.

Sikap itu membuatnya diserang dari dua arah, yakni oleh pemerintahan otoriter yang menuding idealismenya sebagai kedok imperialisme, dan oleh sebagian komunitas Yahudi sendiri yang menganggapnya pengkhianat.

Bagi Soros, konsistensi pada prinsip open society justru mengharuskan ia bersikap kritis terhadap siapa pun yang melanggar hak asasi manusia, termasuk negara yang berakar pada penderitaan kaum sebangsanya.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini