Dalam sejarah kebangsaan kita, ada banyak figur-figur oksidentalis yang berhasil. Sebut saja Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta (alumni Eropa) atau Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan (alumni Timur Tengah). Mereka tidak ingin mengubah Indonesia seperti Eropa dan Timur Tengah, karena mereka bukan orientalis melainkan oksidentalis. Ini yang gagal dipahami generalis milenial hari ini, yang kebetulan lulusan Barat dan Timur Tengah.
Melalui ajarannya tentang al-Istighrab (oksidentalisme), Hassan Hanafi telah banyak berjasa bagi kita, dalam memetakan jalan lurus ke depan meraih kedaulatan. Dalam konteks kebangsaan kita, Hassan Hanafi membukakan jalan berdaulat dari penjajahan Peradaban Barat maupun Timur. Nyata adanya kita tidak sedang dijajah peradaban Amerika dan Eropa, tetapi juga oleh Peradaban Negara-negara Adidaya Asia lainnya, sebut saja China, Jepang, Korea, dan lainnya. Wallahu a’lam bis shawab.
*Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.
Baca tanpa iklan