Bukan hanya itu, Fisik Gedungnyapun konon disebut-sebut "Ramah Hijau" sebagaimana tren masa kini.
Dalam rancang bangun sistemnya, diiharapkan PDN tsb bisa berfungsi sebagai konsolidasi data dan interoperabilitas data yg dulunya menggunakan 27.000 server yg tersebar di seluruh Indonesia.
Sehingga ada efisiensi pengelolaan pusat data untuk mendukung peningkatan layanan e-Government dan menghasilkan konsep SDI (Satu Data Indonesia) guna pengambilan keputusan berbasis data yg cepat & akurat, demikian rencananya saat itu.
Tidak salah Infrastuktur PDN disebut sebagai pondasi percepatan implementasi SPDE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik) yg dkcita2kan selama ini.
Bahkan pemilihan kawasan industri Deltamas sebagai lokasi pertama pembangunan PDN tersebt kabarnya juga telah melalui studi komprehensif utk jadi cloud computing area, area industri tingkat tinggi dan sebagainya.
Kalau ingat kasus KPU saat Pemilu kemarin yg sempat berbohong bahwa mereka terbukti pernah menggunakan Server Aliyun Co.Ltd milik Alibaba.com di Singapura, seharusnya PDN ini bisa menjadi solusinya juga & tidak harus KPU secara memalukan berani berbohong denganm vulgar saat itu yg untungnya berhasil dibongkar didepan Sidang KIP (Komisi Informasi Pusat).
Meski harusnya KPU dikenai tindakan pidana akibat kebohongan & tindakannya yg sangat berbahaya meletakkan data-data penting di Cloud server Luar Negeri tsb.
Sebenarnya kalau melihat spec dan perencanaan awalnya, seharusnya PDN terbangun secara baik Hardware & Softwarenya dan tidak mudah "down" sebagaimana kasus kemarin, apalagi disebut2 oleh beberapa pihak "terkena serangan siber".
Namun jangan lupa, Hardware & Software sebagus apapun tidak akan berarti apa2 tanpa Brainware yg mumpuni, baik ditingkat pelaksana dilapangan maupun Policy maker-nya. Karena kalau sudah terdeteksi ada intruder mulai pukul 04.00 -dimana belum masuk peak time server tsb- seharusnya sudah bisa langsung diputuskan bagaimana defense strategy & contingency-plannya.
Apalagi terus terang saja sebenarnya saat ini Kemkominfo sedang "berperang" melawan 2 Kejahatan besar yang sarat teknologi juga, yakni Perjudian dan Pornografi.
Keduanya selain melibatkan Uang yg sangat besar (baca: menggiurkan utk mempengaruhi Policy), juga melibatkan Mafia dalam & luarnegeri bahkan disebut2 Oknum Aparat yg membackinginya.
Dengan demikian tidak tertutup juga sinyalemen bahwa "Serangan Siber" kemarin bisa merupakan "shock therapy" sekaligus "test the water" dari mereka, meski tesis tsb perlu didukung digital forensic yg adekuat utk tidak disebut sebagai " HoaX" spt Ela elo itu.
Kesimpulannya, keberadaan PDN memang sebuah keniscayaan yg tidak bisa dihindari menghadapi era Industry 4.0 bahkan Society 5.0 yg didalamnya meliputi implementasi SPBE termasuk sistem komputerisasi terpadu imigrasi yg sudah berjalan selama ini. Indonesia mau tidak mau, cepat atau lambat harus benar2 bersiap menghadapi Serangan2 Siber spt ini, sebagaimana perang Rusia vs Ukrania yg juga sangat tergantung kepada teknologi Siber. Kalau PDN mudah "down" spt kemarin, apakah Kemkominfo juga hanya bisa Ela Elo alias Plonga Plongo lagi ...?
*) Dr. KRMT Roy Suryo - Pemerhati Telematika, Multimedia, AI & OCB Independen