Pemeriksaan tahap awal dapat dilakukan dengan pemeriksaan radiologi baik USG, rontgen, CT scan maupun MRI untuk melihat struktur benjolan.
Kedua, patologi anatomi seperti FNAB (jarum halus) atau biopsy untuk menganalisis sel penyebab benjolan. Ketiga, pemeriksaan laboratorium dengan melakukan pemeriksaan darah, kultur mikrobiologi, dan penanda tumor lainnya.
Dari sanalah, dokter memiliki data untuk merencanakan tata laksana tindakan dan terapi yang tepat berdasarkan diagnosis.
Sekali lagi, tidak semua benjolan adalah kanker. Urgensi memeriksakan benjolan untuk pemeriksaan dini yang mencegah penyebaran penyakit.
Deteksi dini merupakan jalan sederhana yang terasa mewah di tengah ketidaksadaran masyarakat untuk menyelamatkan hidup dengan peduli pada tanda-tanda di dalam tubuhnya.
Jika didiagnosis pada stadium awal, maka secara signifikan dapat meningkatkan peluang kesembuhan dan meningkatkan angka harapan hidup.
Ingatlah, waktu adalah kunci emas. Semakin cepat terdeteksi, maka terapi akan lebih efektif dan prognosis atau angka kesemuhan menjadi lebih baik.
Dari tulisan ini, masyarakat diharapkan agar tidak menyepelekan benjolan sekecil apapun yang terasa dan teraba.
Hal ini bisa menjadi alarm tubuh bahwa sejak awal ada pertanda kanker kepala dan leher. Apalagi diperkuat dengan tanda-tanda mencurigakan.
Ditinjau dari epidemiologi global dan nasional, frekuensi kanker tidak bisa lagi dipandang sebelah mata dan harus menjadi prioritas perhatian. Terlebih masih sedikit masyarakat yang memahami tentang kanker kepala dan leher.
Sehingga butuh kampanye peningkatan kewaspadaan, screening sejak awal dan jangan ragu memeriksakan diri pada dokter spesialis THT-BKL.
Sebab deteksi dini bukan hanya tindakan penyelamatan, melainkan upaya menyongsong masa depan dalam kondisi kesehatan yang terbaik. (*)
Baca tanpa iklan