News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Doktrin Monroe, Penggulingan Maduro, dan Minyak Venezuela

Penulis: Setya Krisna Sumarga
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SERANG KAPAL- Presiden Donald Trump merilis video militer AS yang menyerang kapal yang dituduh membawa narkoba dari Venezuela. Kapal tersebut menuju ke Amerika dengan membawa sebelas orang, yang akhirnya tewas dalam serangan itu.

Pada bulan September 2025, Amerika Serikat memperkuat kampanye tersebut dengan peningkatan kekuatan besar-besaran di Karibia.

Delapan kapal perang, sebuah kapal selam serang nuklir, dan sekitar 4.500 tentara, termasuk 2.200 Marinir dikerahkan.

Pasukan ini didukung oleh jet F-35 yang ditempatkan di Puerto Riko dan armada pesawat nirawak pengintai maritim.

Venezuela, sebagai negara Amerika Latin terakhir yang masih secara terbuka menentang kekuatan Amerika dan Doktrin Monroe, mungkin bisa bernasib sama seperti Libya, Irak, dan Suriah.

Dua abad setelah Presiden Amerika Serikat James Monroe memperingatkan kekaisaran Eropa untuk menjauh dari Amerika, Washington kembali menarik garis merah di Karibia.

Logikanya tidak berubah, hanya teknologinya. Di tempat yang dulunya kapal perang berlayar, kini drone melayang; di tempat yang dulunya gula dan pisang mendefinisikan kekaisaran, kini minyak, data, dan jalur laut.

Doktrin Monroe lahir pada tahun 1823 sebagai isyarat defensif dari sebuah republik muda, yaitu Amerika Serikat.

Seiring waktu, doktrin ini berkembang menjadi fondasi dominasi AS atas "halaman belakangnya".

Dari konsekuensi Roosevelt hingga intervensi Reagan, setiap generasi telah menafsirkan ulang doktrin tersebut agar sesuai dengan zamannya.

Kini Donald Trump menghidupkannya kembali dalam bentuk digital – tanpa bahasa sopan "kemitraan" atau "stabilitas regional".

Seperti yang dikatakan Menteri Perang Pete Hegseth, stabilitas di Karibia sangat penting bagi keamanan Amerika Serikat dan benua tersebut.

Kawasan ini, yang telah lama dianggap sebagai parit pertahanan Amerika, sekali lagi menjadi garis pertahanan terdepan.

Bukan melawan narkotika, melainkan melawan pengaruh Tiongkok, Rusia, dan negara mana pun yang cukup berani untuk melawan.

Dalam buku pedoman baru Washington, Karibia bukan lagi wilayah pinggiran yang tenang, melainkan zona operasi terdepan.

Logikanya ada dua: untuk mencegah Tiongkok dan Rusia membangun pijakan, dan untuk menegaskan kembali otoritas Washington.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini