Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) dan Tenaga Ahli DPR 2004-2014
TRIBUNNEWS.COM - Jika boleh disederhanakan, konflik internal atau ontran-ontran (kekacauan) yang kini terjadi di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah manifestasi dari adu kuat antara Gus Yahya versus Gus Ipul.
Gus Yahya, Ketua Umum PBNU bernama lengkap Yahya Cholil Staquf per Rabu (26/11/2025), diberhentikan dari jabatan Ketua Umum PBNU oleh Syuriyah PBNU.
Tak lama berselang, beredar spanduk di dunia maya bertuliskan Gus Ipul,
Sekretaris Jenderal PBNU bernama lengkap Saifullah Yusuf, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PBNU.
Meski isi spanduk itu sudah dibantah Gus Ipul dengan menyatakan "hoax", namun tak pelak hal itu menyisakan dua kemungkinan besar.
Pertama, sebagai harapan agar Gus Ipul benar-benar menggantikan Gus Yahya.
Kedua, sebagai sindiran bahwa Gus Ipul berambisi menggantikan Gus Yahya.
Dugaan sementara
Kabarnya sudah cukup lama terjadi 'perselisihan internal' di PBNU antara Gus Yahya dan Gus Ipul.
Tokoh NU Mahfud MD mensinyalir konflik yang kini terjadi di internal PBNU dipicu oleh pengelolaan tambang yang diberikan pemerintah kepada NU.
Itulah konsekuensi logis dari NU diberikan jatah tambang batubara di Kalimantan Timur, karena memang bukan ahlinya.
Ibarat kawanan semut menemukan tumpukan gula. Yang terjadi kemudian adalah perebutan.
Akhirnya, tambang bukannya menjadi berkah, melainkan justru menjadi semacam kutukan bagi NU.
Itu pulalah konsekuensi logis dari PBNU yang banyak disusupi politikus.
Gus Yahya adalah juru bicara Abdurrahman Wahid semasa mantan Ketua Umum PBNU itu menjabat Presiden ke-4 RI.
Dalam Pemilu 2024 lalu, Gus Yahya juga aktif terlibat dukung-mendukung calon tertentu.
Mungkin karena itulah PBNU mendapat konsesi pengelolaan tambang dari pemerintah, meskipun Muhammadiyah dapat juga.
Tapi PBNU-lah diduga yang paling 'proaktif' minta jatah pengelolaan tambang.
Wakil Ketua Umum PBNU Amin Said Husni, berada di kubu Gus Yahya, juga mantan anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Mardani H Maming, Bendahara Umum PBNU yang mundur setelah terlibat korupsi, merupakan kader PDI Perjuangan dan mantan Bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Gus Ipul seorang politikus tulen
Selain pernah menjadi anggota DPR dari PKB, bahkan sempat menjabat Sekjen PKB, Gus Ipul pernah menjadi Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan kini menjadi Menteri Sosial di Kabinet Merah Putih (KMP) Presiden Prabowo Subianto.
Gus Ipul juga pernah menjadi Walikota Pasuran dan Wakil Gubernur Jawa Timur.
Tapi, masuknya politikus-politikus pragmatis ke PBNU merupakan konsekuensi logis dari sistem pemilihan Ketum PBNU yang dilakukan lewat voting atau pemungutan suara, one man one vote (satu orang satu suara), sehingga hanya mereka yang piawai 'bermain politik' praktislah yang bisa meraih kursi NU-1.
Diketahui, Gus Yahya dipecat melalui Surat Edaran Nomor 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025 yang ditandatangani Wakil Rais Aam PBNU Afifuddin Muhajir dan Katib PBNU Ahmad Tajul Mafakhir, Selasa (25/11/2025).
Ada tiga alasan mengapa Gus Yahya dipecat.
Dua diantaranya adalah karena dia menghadirkan akademikus asal Amerika Serikat, Peter Berkowitz yang pro Israel sebagai narasumber dalam acara Akademi Kaderisasi Nasional (AKN) NU, 15 Agustus lalu dan laporan keuangan PBNU kabarnya yang dianggap bermasalah.
Sebenarnya, bukan di NU saja Gus Yahya menghadirkan Peter Berkowitz.
Dalam acara di Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), Gus Yahya selaku Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI juga menghadirkan akademikus pro-Zionis itu pada 23 Agustus lalu.
Pelanduk Mati di Tengah
Ketika Gus Yahya dan Gus Ipul adu kuat, lantas siapa yang akan keluar sebagai pemenang?
Gus Yahya jelas "dimusuhi" Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar yang merupakan "penguasa" tertinggi di NU. Dengan asumsi "lawan dari lawan adalah kawan", patut diduga Gus Ipul didukung Rais Aam.
Gus Ipul juga mungkin dapat dukungan dari Presiden Prabowo Subianto karena mantan Ketua Umum GP Ansor itu merupakan anak buahnya di KMP.
Tapi ingat, Gus Yahya pun mungkin didukung Prabowo, karena kakak kandung mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas ini merupakan pendukungnya di Pilpres 2024.
Dus, siapa pun yang akan menang, apakah Gus Yahya ataukah Gus Ipul, yang pasti "kalah" adalah Nahdliyin atau warga NU, karena mereka tidak diurus secara maksimal oleh elite-elite PBNU yang sibuk berkonflik.
Ibarat dua gajah bertarung, pelanduk (Nahdliyin) mati di tengah-tengah. Itulah!
Baca tanpa iklan