Kedua, fokus harus bergeser dari sekadar mencari yang sempurna secara eksternal menjadi berinvestasi pada pengembangan talenta internal. Institusi perlu mengadopsi model pembelajaran seumur hidup bagi guru dan karyawan mereka.
Program up-skilling dan reskilling intensif, misalnya pelatihan coding atau Data Analytics, bagi staf pengajar dan kependidikan yang telah lama mengabdi adalah cara paling efektif untuk mengatasi kelangkaan skill secara cepat dan berkelanjutan.
Dengan demikian, tegangan filosofis tidak hilang, tetapi diintegrasikan. Institusi dapat maju dengan sistem yang lebih baik—sistem yang menghargai sinergi antara kedalaman ilmu untuk menghidupi hidup secara bermakna dan penguasaan skill presisi untuk mencari kerja di dunia nyata.
Hanya dengan memiliki guru (SMK) atau dosen dan karyawan yang maju dan adaptif, institusi dapat menghasilkan lulusan yang seimbang, yakni memiliki skill, attitude, dan kemampuan kerja yang presisi, mengubah keterbatasan filosofis dan pragmatis menjadi keunggulan kompetitif.
Baca tanpa iklan