Oleh : Yudhie Haryono (Presidium Forum Negarawan) dan Agus Rizal (Ekonom Univ MH Thamrin)
TRIBUNNERS - Sungguh. Bulan Desember 2025, adalah bulan akhir yang baik untuk menulis refleksi, dan bulan hujan untuk merenung proyektif ekopol Indonesia.
Apa yang terlihat dari beberapa peristiwa dan data ekopol 2025 untuk memprediksi ekopol 2026? Stagnasi.
Ini kesimpulan menyakitkan tetapi realistis. Ya, Indonesia memasuki 2026 dengan pijakan yang relatif kuat tetapi dengan langkah yang sangat pelan. Orang kampung bilang, “alon-alon asal klakon.”
Proyeksi pertumbuhan hanya berkisar 4,9 hingga 5,1 persen—stabil, namun belum mampu menyalip negara tetangga yang mulai mempercepat transformasi industrinya.
Ketahanan ekonomi memang terlihat, tetapi akselerasi tidak kunjung datang. Penyebabnya jelas: bukan hanya tekanan eksternal seperti perang tarif dari Amerika Serikat, tetapi juga arah kebijakan dalam negeri yang masih belum sinkron antara fiskal, moneter, konsumsi, dan investasi.
Warisan arsitektur ekopol lama memang defisit dan banyak lubang di semua lapisan.
Baca juga: Optimalkan Manfaat Ekonomi Kelapa Sawit, Penanaman Diminta di Lahan yang Tepat, Bukan Kawasan Hutan
Tekanan eksternal dari tarif resiprokal AS membuat dunia usaha ragu mengambil langkah ekspansi. Perusahaan global kini lebih berhati-hati memilih negara produksi.
Akibatnya, investor global memilih menunggu, karena pasar internasional yang mestinya menjadi pendorong pertumbuhan justru berubah menjadi ladang persaingan tarif.
Saat bersamaan, negara Vietnam dan Taiwan berhasil memperoleh tarif 0% melalui negosiasi yang lebih cerdas. Indonesia harus membayar mahal dalam bentuk penurunan pesanan ekspor, terutama di produk unggulan seperti pakaian, peralatan listrik, dan furnitur.
Di dalam negeri, harapan besar semestinya bertumpu pada investasi. Namun kenyataannya, mesin akselerasi ini justru melambat. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tumbuh pesat, tetapi Penanaman Modal Asing (PMA) justru turun karena kebijakan yang tidak menarik bagi investor luar.
Hilirisasi mineral memang meningkatkan industri logam dasar, tetapi terlalu bergantung pada sektor padat modal yang tidak banyak menyerap tenaga kerja.
Sementara itu, industri padat karya seperti tekstil, sepatu, dan makanan semakin terhimpit oleh impor murah dan mafia importer barang. Akibatnya, pertumbuhan tidak menghasilkan perluasan lapangan kerja.
Dalam kondisi global yang tidak menguntungkan, perdagangan domestik kembali menjadi tumpuan utama perekonomian Indonesia. Aktivitas pasar dalam negeri yang luas, ditopang oleh 280 juta penduduk, menjadi “sabuk pengaman” ketika pasar ekspor tertekan.
Produk makanan olahan, retail, logistik, hingga transportasi lokal tetap bergerak karena permintaan konsumsi dasar masih stabil. Namun andalan ini tidak otomatis mampu mempercepat pertumbuhan, karena sirkulasinya hanya bergerak di sisi konsumsi, bukan memperkuat kapasitas produksi nasional.
Baca tanpa iklan