Kita harus jujur mengakui bahwa merasa benar sendiri adalah penyakit utama yang membuat ruang dialog macet total. Ketika setiap pihak hanya ingin menang, bukan memahami, maka yang lahir bukan demokrasi deliberatif, melainkan kebisingan tanpa arah.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah munculnya pandangan sebagian kelompok yang secara terbuka anti-pemerintah hingga pada titik ekstrem: lebih rela melihat negara kacau dan hancur demi membuktikan bahwa prediksi mereka benar, ketimbang menerima kenyataan bahwa negara bisa maju di bawah kepemimpinan yang tidak mereka sukai.
Prestasi ditolak bukan karena tidak ada, tetapi karena diakui berarti dianggap memvalidasi pemerintah yang dibenci.
Di titik inilah kebencian personal terhadap pemimpin menjadi racun bagi akal sehat kolektif. Kebencian semacam ini menutup mata terhadap kemajuan bangsa dan menggerus kejujuran intelektual.
Padahal, pemimpin—siapa pun dia—adalah manusia biasa: bisa bekerja dengan baik, sekaligus bisa melakukan kesalahan. Mengakui capaian tidak sama dengan menutup mata terhadap kekeliruan.
Fakta objektif tetaplah berbicara. Dalam periode ini, kinerja pemerintah menunjukkan sejumlah capaian penting: upaya menuju swasembada pangan, stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), serta berbagai program yang langsung menyasar kebutuhan rakyat seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih, hingga program cek kesehatan gratis yang telah menjangkau jutaan warga Indonesia. Capaian-capaian ini nyata dan berdampak, meski tentu tidak imun dari kritik dan kebutuhan penyempurnaan.
Perang narasi hanya akan berakhir jika kita kembali pada satu kesepakatan dasar: kejujuran publik. Kejujuran untuk mengakui yang baik tanpa rasa takut, dan keberanian untuk mengkritik yang salah tanpa niat menjatuhkan.
Pemerintah yang terbuka dan warga yang dewasa adalah fondasi utama agar demokrasi tidak berubah menjadi arena saling meniadakan.
Bangsa ini tidak sedang kekurangan pendapat, tetapi kekurangan kebijaksanaan dalam menyikapinya. Sudah saatnya kita berhenti bertempur demi narasi, dan mulai bekerja bersama demi kebenaran.
Baca tanpa iklan