News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Program Makan Bergizi Gratis

Makan Bergizi Gratis dan Persepsi Generasi Z: Antara Manfaat dan Skeptisisme

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sultan Ghifari Tanjung , analis kebijakan publik dan sistem kesehatan yang berfokus pada nutrisi, pengembangan SDM dan ekonomi kesehatan negara berkembang

Sultan Ghifari Tanjung 

  • Penerima beasiswa penuh (full scholarship) di Sekolah Tinggi Perikanan untuk menempuh pendidikan Sarjana (S1).
  • Pernah mengikuti program magang think-tank Shin Kawasaki, Jepang, yang berfokus pada kebijakan publik serta revitalisasi dan inovasi industri.
  • Peserta Japan Internship Fellowship on Public Policy.
  • Penerima beasiswa penuh pelatihan Bahasa Jepang level N1.
  • Pendiri Gerakan Dakwah Kebangsaan, sebuah organisasi non-pemerintah yang berfokus pada penguatan dan pengembangan generasi masa depan Indonesia.

 

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang sebagai salah satu intervensi sosial terbesar pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 

Dengan sasaran utama pelajar dan kelompok usia muda, MBG langsung bersinggungan dengan Generasi Z, yang bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga aktor kritis dalam membentuk opini publik.

Respons Gen Z terhadap MBG tidak sepenuhnya seragam.

Di satu sisi, program ini dipandang sebagai bentuk kehadiran negara dalam menjamin hak dasar atas pangan dan gizi.

Bagi sebagian Gen Z, terutama yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah dan menengah, MBG dianggap kebijakan inklusif dan relevan.

Biaya hidup yang meningkat, tekanan ekonomi keluarga, serta ketimpangan akses pangan sehat membuat makan gratis di sekolah dan institusi pendidikan terasa sangat penting.

Baca juga: Pembagian MBG di Nguter Jadi Momen Berbagi Tips Makanan Bergizi

Data Riskesdas menunjukkan masalah anemia pada remaja masih tinggi, khususnya pada perempuan.

Dalam konteks ini, MBG berpotensi menjadi solusi nyata untuk meningkatkan asupan zat besi dan protein, sekaligus mendukung konsentrasi belajar dan kesehatan jangka panjang namun penerimaan MBG tidak lepas dari kritik. 

Kekhawatiran utama muncul terkait kualitas dan standar gizi.

Kesadaran tinggi Gen Z terhadap kesehatan, keamanan pangan, dan keberlanjutan membuat mereka mempertanyakan apakah MBG benar-benar memenuhi standar gizi seimbang.

Selain itu, aspek autonomi dan preferensi pribadi turut menjadi sorotan.

Gen Z cenderung menolak kebijakan seragam yang minim pilihan, termasuk soal diet, alergi, atau gaya hidup sehat.

Ketidakpercayaan terhadap implementasi program pemerintah sebelumnya juga membentuk sikap skeptis.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini