Namun demikian, sikap AS yang memantik kemarahan Eropa ini menjadi semacam blessing in disguise bagi pembaharuan sistem internasional. Sistem internasional yang saat ini bersifat anarkistis dan pseudo-multipolar berpotensi menjadi multipolar dalam bentuk sejatinya sebagaimana dicita-citakan oleh kaum liberal dan neo-liberal dalam hubungan internasional.
Ketika kekuatan dunia semakin terdesentralisasi-tidak dikuasai oleh satu dua kekuatan saja, maka negara-negara di dunia akan cenderung masuk dalam pola sinergi dan kerja sama internasional yang mutualis, egaliter, dan respektif terhadap kedaulatan masing-masing. Eropa memiliki potensi besar untuk memperbaharui tatanan sistem internasional.
Pecahnya NATO menjadi sinyal baik bagi keamanan dunia. Di bidang ekonomi dan perdagangan, Eropa dapat mencari mitra strategis baru di kawasan lain dengan mengeliminasi privilege yang diberikan kepada AS.
Negara-negara Eropa juga dapat lebih bersikap feel free ketika menjalin relasi bilateral dengan negara- negara dari kawasan lain tanpa harus mengindahkan kebijakan luar negeri AS yang cenderung merugikan kepentingan negara-negara Eropa.
Momentum Eropa
Tatanan sistem internasional yang bersifat multipolar adalah mimpi besar negara-negara dunia akan perdamaian global. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, sistem internasional harus terdesentralisasi dalam bentuk yang multipolar, bersih dari anasir kekuatan-kekuatan hegemon yang melanggar hukum internasional dan mengutamakan kepentingan nasional sendiri secara sepihak.
Sikap AS dalam kasus Rusia-Ukraina dan niat menguasai Greenland seyogianya membangunkan kembali kesadaran Eropa bahwa prinsip politik lawas; tidak ada teman abadi, yang ada hanya kepentingan abadi, nyata adanya.
Inilah saatnya bagi Eropa untuk menarik diri secara tegas dari AS dan membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga sirkumstansi dunia yang lebih damai dan adil. Eropa punya potensi besar untuk itu.**
Baca tanpa iklan