DUNIA saat ini bukan lagi orkestra harmoni, tapi rimba raya, dikepung berbagai kepentingan. Berlin memberi sinyal, tatanan berbasis aturan (rules-based order) sudah tamat. Setiap bangsa harus mempersenjatai dirinya sendiri.
Realisme geopolitik kembali ke titik nol, teori homo homini lupus, “manusia serigala bagi sesama”, semakin tak terhindarkan.
Presiden Prabowo Subianto membaca realitas ini. Lawatan ke Washington pekan depan bukan kunjungan “pengibaan” ke Amerika, sebab posisi diplomasi Indonesia setara. Baginya, nilai tawar negara bukan hasil rekayasa di balik meja perundingan, melainkan kekuatan diplomasi dari kokohnya kedaulatan domestik.
“Berkali-kali presiden menegaskan, Indonesia sudah berhenti mengekor. Kita pemain kunci pada titik koordinat sendiri.”
Diplomasi Parang
Presiden Prabowo memperkenalkan "Diplomasi Parang". Bukan ancaman fisik, tetapi simbol instrumen fungsional. Penebas semak belukar gangguan global penjerat leher ekonomi. Fokus utama pada keterlibatan Balance of Payments (BOP). Untuk neraca pembayaran lebih sehat.
Puluhan tahun BOP Indonesia didikte pasar global tidak adil. Indonesia dikunci sebagai penyedia bahan mentah murah, sekaligus pasar bagi produk mereka. Ideologi Prabowo tegas, permainan eksploitatif ini harus dihentikan.
BOP bukan soal urusan teknokratik bank sentral, melainkan marwah kedaulatan ekonomi. Jika neraca pembayaran rapuh membuat kebijakan nasional mudah disetir asing.
Ketergantungan utang luar negeri harus dijaga untuk menutup celah intervensi. Sebab Indonesia negara berdaulat, memiliki ketahanan ekonomi mandiri.
“Diplomasi Parang” memastikan arus modal internasional memberi nilai tambah rakyat. Ekspor tinggi tak bermakna jika isinya hanya tanah batu kerukan perut bumi. Prabowo mewajibkan industri pengolahan hilir, menjadi sumber penghidupan rakyat, mensejahterakan buruh lokal, bukan mempercantik angka perdagangan negara lain.
Jihad Hilirisasi
Logika nilai Rupiah sederhana, uang keluar lebih banyak dari masuk, maka rupiah ambruk. Dampaknya harga barang impor melonjak. rakyat susah. Hilirisasi adalah kunci, agar tidak menjual bahan mentah baterai murah, lalu membeli kembali bentuk baterai mahal. Bangsa tekor.
Lewat hilirisasi, uang masuk kantong Indonesia jauh lebih besar. Belum lagi ditopang iklim BOP sehat, Rupiah akan menguat. Indonesia punya nyali untuk mengatakan "Tidak" pada kebijakan global merugikan. Berdiri tegak tanpa meminta investasi bermotif mencekik.
Konstruksi gagasan ini didukung kekuatan moral NU, Muhammadiyah dan MUI. Bukan sekadar transaksi dagang tanpa strategi, tetapi ini “Jihad Kedaulatan". Filosofisnya: kekayaan alam amanah Tuhan—hifzhul maal. Harta bangsa dilarang diserahkan mentah-mentah kepada predator global. Masukan ulama ini memperkuat legitimasi batin Presiden sebelum ke Washington.
Hilirisasi itu sebuah kewajiban etis. Memutus mata rantai kemiskinan akut dan sistemik. Maka bersandar pada mandat spiritual jutaan rakyat sebuah kebijakan strategis. Keadilan ekonomi harga mati bagi martabat manusia.
Strategi dan Mitigasi
Prabowo menerapkan strategi Double-Track Diplomacy. Tegas pada prinsip, fleksibel pada metode, tidak menggunakan bahasa "memohon", tetapi bahasa "kepentingan bersama".
Kepada Trump, harus bicara tegas, dalam bahasa transaksi saling menguntungkan (win-win). Indonesia bukan ancaman bagi Amerika, tapi juga bukan “predikat penderita” bagi perekonomian mereka.
Baca tanpa iklan