Kebijakan publik harus menekankan posisi Indonesia sebagai jembatan emas Indo-Pasifik. Posisi paling strategis bagi kepentingan Barat - Timur.
Menghadapi ancaman tarif Trump (universal tariff), ada tiga lapis benteng perlindungan. Pertama; Akselerasi Pasar Non-Tradisional dengan membuka akses luas ke Asia Tengah, Afrika, Amerika Latin. Dalam waktu bersamaan mengantisipasi pasar AS jika sewaktu-waktu terjadi kontraksi.
Kedua; Penguatan Konsumsi Domestik, memastikan industri hilir memiliki pasar dalam negeri kuat. Tidak bergantung 100 persen pada ekspor. Ketiga; Resiprositas Tarif, pada saat itu “Diplomasi Parang” bekerja jika tarif ditekan, Indonesia punya instrumen serupa untuk melindungi industri nasional.
Jembatan Indo-Pasifik
Indonesia tetap memegang prinsip bertetangga baik. Teman bagi Amerika. Mitra bagi China. Sahabat bagi Rusia. Keramahan bukan kelemahan. Saat kekuatan global memakai hambatan tarif atau tekanan moneter mengerdilkan kita, "Parang" diplomasi dihunus.
Dunia sedang mempersenjatai diri. Jerman mulai berteriak. Indonesia sudah melangkah lewat hilirisasi. Kita tidak ingin dunia dipenuhi konflik. Tetapi Indonesia tidak boleh menjadi mangsa bagi kepentingan mereka.
Risalah Kedaulatan
“Indonesia sekarang bukan bangsa yang bisa digertak dengan selembar kertas nota diplomatik.”
Lawatan ke Washington membawa risalah kedaulatan. Prabowo hadir bukan hanya sebagai presiden Indonesia tetapi juga pemimpin kawasan Asia Tenggara, sebuah pusaran kekuatan besar yang juga membawa "Parang" kedaulatan.
Maka tegas dalam prinsip perdamaian, kokoh dalam ketahanan ekonomi domestik adalah kunci. Indonesia tidak boleh didikte janji manis diplomatik. Kekuatan hilirisasi sedang tumbuh menjamin napas ekonomi di atas tanah sendiri.
Indonesia akan menjadi kawan setia jika dihargai, sebaliknya menjelma menjadi mitra tangguh jika ditekan.
Presiden Prabowo datang bukan untuk meminta, tapi menawarkan kemitraan setara. Hilirisasi adalah harga mati kedaulatan, bukan ruang negosiasi. Indonesia telah menentukan sikap, menjadi raksasa yang “memantaskan diri”, mandiri tak bisa digertak nota diplomatik.
Di Washington, "Parang" kedaulatan dihunus, tegas menjaga marwah bangsa, konsisten membela kepentingan rakyat di atas tanah sendiri.
Baca tanpa iklan