Semoga Presiden Prabowo segera mengembalikan arah republik ke jalur logika lurus daulat rakyat. Apalagi, seharusnya Presiden Prabowo paham betul konsep terbolak-balik demikian. Dalam ilmu hukum, Protagoras, seorang filsuf Yunani kuno, mengenalkan konsep “Paradox of the Court”. Yaitu, konsep perkara hukum yang paradoksal, terbolak-balik.
Kita tentu masih ingat buku “Paradoks Indonesia”, karangan Presiden Prabowo, dimana Beliau berargumen, adanya kontradiksi ironis Indonesia, yang kaya sumber daya alam dan manusia, namun sebagian besar rakyatnya justru masih hidup miskin.
Kondisi ini menunjukkan kekayaan negara yang dikorupsi, mengalir keluar, dan tidak dinikmati sebagian besar rakyat Indonesia. Menjadikan Indonesia negara yang “kaya tapi miskin”. Fakta dan logika yang terbolak-balik, berputar-balik, berpilin-pilin.
Maka, agar tidak berubah menjadi plin-plan, sebagai patriot, Prabowo mesti tegas dan tegar. Tidak bersikap paradoks ketika berhadapan dengan perang dan perbudakan dagang Amerika ala Trump. Karena, perang bukanlah perdamaian; Kemerdekaan dagang bukanlah perbudakan; dan kebodohan sama sekali bukan kekuatan.
Baca tanpa iklan