Hal ini bisa dilihat dari bagaimana warga Tunisia menyibukkan diri pada siang hari.
Mereka akan menyegerakan segala aktivitas yang bisa dilakukan pada siang hari untuk menyelesaikannya dengan cepat.
Menariknya, hal ini diterapkan oleh hampir seluruh masyarakat Muslim agar sore harinya tiba di rumah untuk berbuka bersama keluarga.
Para supir taksi, penjaga toko kelontong, pedagang di pasar, penjual perabotan, para pekerja, mereka akan menyegerakan pulang untuk menikmati kebersamaan bersama keluarga.
Lalu bagaimana dengan kedai makan, restoran, atau kafe di bulan Ramadhan?
Uniknya, mereka akan tutup di siang hari dan buka di malam harinya.
Bukan fenomena terbalik biasa, justru mereka sedang menunjukkan lapisan budaya Tunisia yang sangat indah.
Sebagaimana adatnya, masyarakat Tunisia akan menutup kedai makanannya untuk menghormati orang yang berpuasa.
Tidak semua negara Muslim melakukan ini, tapi Tunisia adalah salah satu yang menjaga solidaritas sosial ini tetap utuh.
Di sisi lain, sebuah tradisi religiusitas sedang menyeruak seiring berjalannya bulan Ramadhan.
Ia membawa kepercayaan suatu madhab, hingga meresap perlahan-lahan seolah tradisi klasik.
Shalat tarawih dapat dijadikan rujukan dalam hal ini.
Dalam shalat tarawih, warga lokal Tunisia tidak hanya membaca surat pendek setelah bacaan Al-Fatihah, melainkan membaca 1 juz lebih, baik dalam 20 rakaat maupun 8 rakaat shalat tarawih.
Tujuannya agar Al-Qur’an telah khatam pada malam 27 Ramadhan.
Sebagaimana penganut mazhab Maliki sejati, warga Tunisia meyakini bahwa malam Lailatul Qadar tepat berada di malam 27 Ramadhan.
Baca tanpa iklan