Maka, tak hanya mengkhatamkan Al-Qur’an, pada malam itu Tunisia dihiasi lampu dan dekorasi cantik. Di jalanan kota, di masjid, bahkan di rumah-rumah warga.
Malam 27 Ramadhan menjadi puncak spiritualitas yang paling dinantikan oleh masyarakat Tunisia dan lagi-lagi tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari mereka, bahkan keyakinan pun seperti sebuah tradisi karena selalu hidup dalam kebiasaan mereka.
Dari Tunisia, kita dapat melihat bagaimana solidaritas spiritual mampu menggerakkan masyarakat dan membentuk fabric sosial dari akumulasi sejarah panjang.
Mungkin kita akan menemukan keunikan tradisi yang berbeda di negara lain, tapi Tunisia memiliki caranya sendiri yang membuatnya selalu layak untuk dikagumi.
(*)
Baca tanpa iklan