News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Soal Potensi Chaos Juli-Agustus 2026: Saatnya Elite Jadi Peneduh Ruang Publik

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KERUSUHAN - Isu chaos Juli–Agustus 2026 mencuat, elite diminta jaga narasi publik agar stabilitas tetap terjaga.

BELAKANGAN muncul narasi soal potensi konflik pada Juli–Agustus 2026.

Di tengah riuh isu chaos, elite diminta tidak hanya meredam eskalasi, tetapi juga menjaga narasi agar ruang publik tetap tenang dan stabil.

Narasi ini menuai perhatian publik.

Sejumlah pihak menilai, pernyataan tersebut memiliki implikasi politik yang tidak sederhana, terutama di tengah dinamika global dan domestik saat ini.

Pernyataan itu tentu memiliki bobot politik yang tinggi dan tidak bisa dilepaskan dari dampaknya terhadap persepsi publik.

Dalam konteks komunikasi publik saat ini, pernyataan semacam itu berpotensi memicu persepsi bahwa kondisi nasional sedang menuju krisis.

Padahal, stabilitas tidak hanya ditentukan oleh realitas di lapangan, tetapi juga oleh bagaimana publik memaknainya.

Di era post-truth dan viralisme, persepsi bisa sama kuatnya dengan fakta.

Pernyataan yang mengandung potensi kekhawatiran, jika tidak dikelola dengan baik, bisa memperbesar rasa cemas di masyarakat.

Situasi global yang tengah bergejolak—termasuk konflik di kawasan Timur Tengah—menuntut adanya keteduhan dan soliditas di antara para tokoh nasional.

Dalam kondisi seperti ini, saya menilai penting bagi para elite untuk menjaga narasi publik agar tetap konstruktif.

Kritik tentu sangat diperlukan dalam demokrasi.

Tapi harus disampaikan secara konstruktif, tidak menimbulkan keresahan, apalagi kepanikan yang tidak perlu di tengah masyarakat.

Mekanisme check and balance tetap harus berjalan dalam koridor konstitusi.

Dalam hal ini, saya menilai pemerintahan Prabowo Subianto menunjukkan keterbukaan terhadap masukan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini