News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Langkah Menuju Swasembada Gula Konsumsi di 2026

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SWASEMBADA GULA - Optimisme swasembada gula Indonesia 2026 kian nyata lewat bongkar ratoon, ekspansi tebu, dan hilirisasi industri.

OPTIMISME Indonesia untuk mencapai swasembada gula konsumsi pada tahun ini semakin menemukan pijakan kuat.

Hal ini didukung dengan tren data produksi, intervensi program yang terarah, serta transformasi sektor pergulaan yang mulai menunjukkan hasil nyata. Dalam konteks ini, program hilirisasi pertanian khusus melalui bongkar ratoon dan perluasan areal tebu periode 2025–2027 akan menjadi katalis penting yang mempercepat terwujudnya kemandirian gula nasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi gula nasional dalam beberapa tahun terakhir mengalami tren peningkatan, meskipun belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan domestik.

Produksi gula kristal putih (GKP) nasional pada 2023 berada di kisaran 2,3–2,4 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi rumah tangga mencapai sekitar 2,8 juta ton. Selisih inilah yang selama ini ditutup melalui impor.

Namun, mulai tahun lalu terdapat perkembangan signifikan. Luas areal tebu nasional yang sempat stagnan di kisaran 400–450 ribu hektare mulai menunjukkan peningkatan, seiring intervensi kebijakan pemerintah.

Produktivitas tebu juga perlahan meningkat dari rata-rata sekitar 65 ton per hektare menuju 70–75 ton per hektare di beberapa sentra produksi. Bahkan, di kawasan yang menerapkan praktik budidaya modern, produktivitas dapat mencapai lebih dari 90 ton per hektare.

Lebih penting lagi, rendemen tebu yang selama ini menjadi titik lemah, mulai mengalami perbaikan. Jika sebelumnya rata-rata rendemen nasional berkisar 6–7 persen, kini beberapa pabrik gula yang telah direvitalisasi mampu mencapai rendemen di atas 8 persen. Kenaikan satu persen rendemen saja dapat meningkatkan produksi gula nasional secara signifikan tanpa harus menambah luas lahan secara drastis.

Game Changer Bernama  Bongkar Ratoon

Dalam kerangka inilah, program bongkar ratoon menjadi sangat strategis. Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian secara aktif mendorong peremajaan tanaman tebu tua yang sudah tidak produktif. Target bongkar ratoon dalam beberapa tahun terakhir mencapai puluhan ribu hektare per tahun, dengan fokus pada wilayah sentra seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung.

Program ini didukung dengan penyediaan benih unggul bersertifikat, bantuan sarana produksi, serta pendampingan teknis kepada petani. Varietas baru yang ditanam memiliki potensi produktivitas lebih tinggi, tahan terhadap cekaman lingkungan, dan memiliki rendemen lebih baik. Dalam jangka pendek, program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas minimal 10–20 persen dibandingkan tanaman ratoon lama.

Selain itu, Ditjen Perkebunan juga menjalankan program Pengembangan Kawasan Tebu Terintegrasi yang menghubungkan petani dengan pabrik gula dalam satu ekosistem produksi. Pendekatan kawasan ini memungkinkan pengelolaan budidaya yang lebih terstandar, efisiensi distribusi bahan baku, serta peningkatan kualitas tebu yang digiling.

Langkah lain yang tak kalah penting adalah perluasan areal tebu secara masif pada periode 2025–2027. Pemerintah menargetkan penambahan luas lahan tebu baru hingga ratusan ribu hektare, terutama di luar Pulau Jawa seperti Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Papua. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerataan pembangunan serta optimalisasi lahan potensial yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Jika program perluasan ini berjalan sesuai rencana, maka luas areal tebu nasional berpotensi meningkat menjadi lebih dari 700 ribu hektare dalam beberapa tahun ke depan. Dengan asumsi produktivitas rata-rata 80 ton per hektare dan rendemen 9 persen, produksi gula nasional berpotensi menembus angka 4 juta ton. Angka ini tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan pada impor secara signifikan.

Hilirisasi dan Revitalisasi

Hilirisasi menjadi elemen kunci dalam memastikan keberlanjutan peningkatan produksi tersebut. Tidak cukup hanya meningkatkan produksi tebu, tetapi juga harus diimbangi dengan kapasitas industri pengolahan yang memadai. Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 60 pabrik gula, namun sebagian besar masih menggunakan teknologi lama dengan efisiensi rendah.

Melalui program revitalisasi, pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas giling dan efisiensi pabrik gula. Investasi pada teknologi modern, termasuk sistem otomatisasi dan efisiensi energi, menjadi prioritas. Bahkan, beberapa pabrik gula baru yang dibangun di luar Jawa telah dirancang dengan konsep terintegrasi, tidak hanya memproduksi gula, tetapi juga bioetanol dan listrik dari limbah tebu.

Dalam perspektif ekonomi, hilirisasi ini memberikan nilai tambah yang signifikan. Produk turunan seperti bioetanol memiliki potensi pasar yang besar, terutama dalam mendukung program energi terbarukan. Dengan demikian, industri gula tidak hanya menjadi sektor pangan, tetapi juga bagian dari strategi energi nasional.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini