News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dari Negeri Rempah Menuju Negara Besar

Editor: Malvyandie Haryadi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RAPAT PARIPURNA DPR - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

(Catatan atas Pidato Presiden tentang Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2027 pada Sidang Paripurna DPR RI, 20 Mei 2026)

BARANGKALI tidak banyak bangsa di dunia yang pernah begitu kaya, begitu diperebutkan, tetapi sekaligus begitu lama hidup dalam paradoks sejarah seperti Indonesia.

Kita sering membaca kolonialisme hanya sebagai kisah penaklukan wilayah. Padahal jauh di balik itu, kolonialisme pada hakikatnya adalah perebutan pusat-pusat kekayaan dunia.

Dan selama berabad-abad, Nusantara berada di pusat perebutan itu.

Rempah-rempah dari Maluku pernah menggerakkan ekonomi global. Jalur perdagangan Selat Malaka menjadi nadi lalu lintas dunia.

Hasil bumi Nusantara menghubungkan Timur dan Barat dalam jaringan perdagangan yang membentuk wajah modern peradaban manusia.

Karena itu bangsa-bangsa besar datang dengan hasrat yang tidak kecil.

Portugis datang membawa misi dagang dan kekuasaan. Spanyol bergerak dari arah lain. Inggris ikut menanam pengaruh. Tetapi Belanda yang akhirnya paling lama membangun kendali ekonomi di wilayah ini.

Dalam catatan saya terhadap pidato Presiden Republik Indonesia tentang Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2027 di Sidang Paripurna DPR RI pada 20 Mei 2026—bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional—ada satu slide yang terasa sangat simbolik: ranking PDB per kapita dunia dari tahun 1500 hingga 1800 yang memperlihatkan Belanda berkali-kali berada di puncak ekonomi dunia.

Banyak orang mungkin membacanya sebagai data sejarah biasa.

Tetapi sesungguhnya slide itu menyimpan refleksi yang jauh lebih dalam tentang hubungan antara kekayaan Nusantara dan akumulasi kekuatan ekonomi global.

Sebab kejayaan Belanda pada masa itu tidak lahir dari ruang kosong.

Ia bertumbuh bersama kolonialisme, monopoli perdagangan, penguasaan pelabuhan, jalur laut, dan eksploitasi sumber daya wilayah jajahan.

VOC bukan hanya perusahaan dagang. Ia adalah simbol awal kapitalisme global modern.

Dari rempah Nusantara, Amsterdam berkembang menjadi salah satu pusat keuangan dunia. Pasar saham tumbuh. Perbankan berkembang. Asuransi maritim lahir. Akumulasi modal Eropa meningkat.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini