News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Mengurai Jalan Terjal Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka

Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PELAJAR PANCASILA - Foto pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SMKN 1 Manggar, Belitung, Provinsi Bangka Belitung, Minggu (3/11/2025). Di atas kertas, Profil Pelajar Pancasila terlihat sangat ideal. Enam dimensi yang ditawarkan dinilai telah menunjukkan keseimbangan multi aspek

Proyek yang dimaksud tentu bukan hanya sekadar membuat produk fisik saja. Akan tetapi, bagaimana proyek tersebut nantinya dapat hadir sebagai solusi atas permasalahan riil lingkungan.

Maka pada titik krusial inilah, pembelajaran yang dirancang oleh guru harus terhubung kuat dengan realitas sosial saat ini. Tidak hanya berkutat pada domain konseptual, tetapi membawanya ke ranah konkrit yang jauh lebih kontekstual.

Isu selanjutnya adalah kuatnya paradigma kognitif di kalangan guru dan siswa.

Pola ini ditandai dengan mengutamakan pencapaian akademik di atas pengembangan karakter holistik seperti gotong royong dan kemandirian.

Akibatnya, guru sering kali terjebak dalam rutinitas untuk mencapai skor dan ketuntasan materi. 

Kondisi ini dapat memicu terciptanya lingkungan belajar yang kompetitif namun individualistik.

Kecerdasan intelektual ditempatkan pada posisi yang tinggi,  sedangkan etika, empati, dan nilai sosial kurang tersentuh.

Tanpa adanya perubahan sudut pandang ini, manifestasi P5 hanya akan menyentuh aspek kognitif semata. Tidak mampu menciptakan ketangguhan moral dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Di sisi lain, implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) tentu memerlukan sumber daya dan fasilitas pendukung. 

Persoalan klasik pendidikan kita, dimana ketersediaan fasilitas penunjang belumlah merata. Sekolah di daerah perkotaan seringkali mendapat fasilitas lengkap dan terbaru. Namun sekolah di daerah terpencil tidak mendapat fasilitas yang sama.

Bahkan sekedar untuk ruang kelas saja, masih banyak yang belum layak.

Fasilitas yang lengkap tentunya akan memudahkan guru untuk menciptakan kreasi pembelajaran yang mendukung P5.

Bandingkan dengan sekolah-sekolah di daerah terpencil, pinggiran atau 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) misalnya. 

Mereka seringkali harus berjuang dengan segala keterbatasan sarana dasar, ketidaklayakan ruang kelas, ketiadaan akses listrik, apalagi ketersediaan perangkat digital.

Sebuah ironi ketimpangan di tengah upaya pemerintah untuk menyediakan layanan pendidikan bagi segenap anak bangsa. 

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini