Dalam tataran praktik, membentuk Profil Pelajar Pancasila membutuhkan sinergi dan kolaborasi kuat antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Namun realitasnya, hal ini seringkali belum berjalan selaras.
Alhasil, penanaman karakter di sekolah tidak berlanjut atau bahkan berlawanan dengan pembiasaan di rumah maupun lingkungan sosial. Ketidaksinkronan ini memicu fragmentasi dalam pendidikan anak.
Guru berjuang menanamkan kemandirian dan etika, sementara lingkungan luar tidak mendukung, bahkan abai.
Tanpa adanya kolaborasi dan komitmen bersama yang kuat, pembentukan profil pelajar yang bernalar kritis, kreatif, dan bergotong royong akan jauh panggang dari api.
Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila di tengah realitas pendidikan saat ini memang harus melalui jalan yang terjal dan berliku. Tantangan nyata sebagaimana penulis kemukakan di atas, dapat menjadi ‘batu sandungan’ yang tidak bisa diabaikan.
Akan tetapi, jalan terjal tersebut bukanlah alasan untuk berhenti melangkah. Pepatah mengatakan ‘jika ada kemauan pasti ada jalan.’
Maka dari itu, segenap pihak harus mampu meleburkan ego dan berjalan beriringan untuk menanamkan pilar karakter dalam P5. Upaya transformatif ini tidak boleh dibebankan kepada guru atau sekolah saja. Namun, keberhasilan dapat dicapai jika ada kesadaran kolektif untuk saling bersinergi, berkolaborasi, dan bergerak bersama.
Sekolah bertindak sebagai penggerak, orang tua sebagai penyaras, dan masyarakat serta pemerintah sebagai fasilitator pendukung.
Jika ini terwujud, Indonesia akan memiliki modal besar untuk bertransformasi menjadi negara maju, sebagaimana visi Indonesia Emas 2045.
Baca tanpa iklan