Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
ABC World

Mengenal Perpaduan Budaya di Islamic Museum of Australia

Secara arsitektural dan artistik, Islamic Museum of Australia (IMA) di Melbourne didedikasikan bagi perpaduan budaya. Bangunan museum…

Secara arsitektural dan artistik, Islamic Museum of Australia (IMA) di Melbourne didedikasikan bagi perpaduan budaya. Bangunan museum yang kini telah berusia setahun jika dilihat dari atas, misalnya, mengesankan citra perahu pelaut Makassar.

Letaknya di bagian utara Melbourne. Jika bersepeda di sepanjang jalur Merri Creek Trail melewati pepohonan rindang, mungkin anda tidak akan pernah mengira tadinya kawasan bernama Thornbury ini adalah daerah pabrik.

Berbagai pabrik di daerah yang tadinya kawasan industrial itu telah lama bubar. Salah satunya adalah pabrik botol, yang sejak setahun lalu, telah berubah wujud menjadi IMA.

"Seorang kaligrafer bernama Shakeel Tariq melukis dua tangki-tangki air ini," kata Nur Shkembi, kurator seni pada IMA, menjelaskan tangki besar yang menjadi semacam pintu masuk ke kawasan museum.

"Lukisan ini adalah perpaduan antara kaligrafi dan grafitti," ujar Nur Shkembi kepada ABC.

Salah satu karya seni Anisa Sharif yang dipajang di museum.

 

Rekomendasi Untuk Anda

"Shakeel memulai karir sebagai pelukis graffiti yang belakangan belajar kaligrafi. Kini dia memadukan keduanya dan bisa kita saksikan di kawasan museum ini," ujar Nur Shkembi lagi.

Perpaduan budaya di museum ini misalnya tampak dari penutup luiar bangunan museum yang terbuat dari baja berkarat, melambangkan warna tanah merah di pedalaman Australia, dengan ornamen arsitektur Timur Tengah.

Nur Shkembi menyatakan, jika kita melihat bangunan museum dari atas, akan tampak kesan citra unta dan perahu pelaut Makassar - yang sengaja didedikasikan bagi sejarah awal kedatangan Islam di  Australia.

Peranan pedalaman Australia memberikan inspirasi kuat bagi pendiri museum ini, Moustafa Fahour OAM.  Ini terlihat pada bagaimana museum ini menampilkan sejarah panjang Islam di Australia, mulai dari kedatangan pelaut Makassar yang mencari teripang ke kawasan utara hingga para penunggang unta asal Afghanistan di pedalaman Australia.

Saat ini, di museum ini sedang berlangsung pameran Boundless Plains, yang menampilkan jejak-jejak kehadiran Islam di Australia, misalnya masjid pertama di daerah Marree, Australia Selatan.

Nur Shkembi, kurator eksebisi seni di IMA.

 

Pameran ini selain mengungkap jejak peninggalan semacam itu, juga menemukan Aisha Zada, seorang nenek berusi 101 tahun. Aisha adalah anak dari penunggang unta asal Afghanistan yang kawin dengan perempuan aborigin.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas