Mengenal Perpaduan Budaya di Islamic Museum of Australia
Secara arsitektural dan artistik, Islamic Museum of Australia (IMA) di Melbourne didedikasikan bagi perpaduan budaya. Bangunan museum…
"Aisha masih ingat misalnya, bagaimana ia yang bukan Muslim, selalu membersihkan masjid untuk ayahnya yang Muslim. Aisha bahkan selalu menyiapkan menu sahur buat ayahnya di bulan puasa," jelas Moustafa Fahour.
Contoh perpaduan budaya lainnya yang juga tampak jelas di museum ini adalah sculptures berupa papan selancar karya seniman keturunan Yunani Philip George. Karya ini merefleksikan kerusuhan SARA di Pantai Cronulla, Sydney di tahun 2005.
Namun demikian, menurut Nur Shkembi, pernah ada seorang pengunjung yang menanyakan mengapa tidak ada seni tradisional di museum ini. Nur mengajak pengunjung tersebut ke papan seluncur dan menunjukkan desain tradisional di papan itu.
"Ini adalah gambaran umat Muslim," jelasnya. "Sebagai warga Australia kami memiliki beragam identitas. Kecuali warga aborigin, kita semua pasti memiliki garis keturunan yang merupakan pendatang."
Tampaknya, museum ini memang ingin menampilkan tradisi ke dunia modern.
Pengunjung bisa menikmati karya kaligrafer ternama Sabah Arbilli. Atau mendengar suara Cat Stevens atau dikenal sebagai Yusuf Islam membacakan ayat suci Alquran.
Dan, tak lupa pula, perpaduan budaya terasa sampai ke kafe museum. Mungkin saja pengunjung akan bertemu Samira El Kafir, dalah seorang finalis MasterChef Australia di kafe itu.

Baca tanpa iklan