Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
ABC World

Bagaimana Bank di Australia Tangani Serangan Siber

Pada Selasa malam pekan ini, Bank Westpac di Australia mengalami ancaman serangan siber. Semuanya tertangani oleh Pusat Koordinasi…

Tribun X Baca tanpa iklan

Westpac mengakui menghadapi ancaman dari jajarannya sendiri. Sebagian besar berasal dari karyawan yang secara tidak sengaja membiarkan sistem mereka rentan terhadap peretas.

Westpac tidak bersedia berkomentar tentang hal itu, namun pihak Accenture menjelaskannya.

"Justru staf yang perlu kita pastikan adanya keamanan dan kepatuhan secara internal," kata Fallia.

Accenture mengatakan ini bisa datang dari karyawan yang kecewa maupun yang mendapat insentif keuangan dari pihak luar.

Bagaimana memenangkan peperangan siber ini?

Ahli keamanan dunia maya dari Universitas Sydney, Mark Pesce, mengatakan peperangan tidak mungkin dimenangkan, sehingga kalangan perbankan memang harus memenangkan setiap pertempuran, setiap hari.

"Jadikan karyawan berpikir seperti seorang penjahat," katanya.

Rekomendasi Untuk Anda

"Ketika mereka berpikiran demikian dan mencari sasaran empuk, saat itulah mereka belajar bagaimana membuat bank lebih aman," ujar Pesce.

Menurut dia, sebagian besar bank memiliki teknologi terbaru, sehingga isunya bukan bagaimana membeli sistem baru, tapi lebih bagaimana membuat staf mengembangkan strategi bersama-sama.

"Mempelajari trik, bukan teknologinya. Bukan alatnya, tetapi trik yang dilakukan para peretas mendapatkan akses ke dalam organisasi ini," kata Pesce.

Di garis depan

Australia kini berada di garis depan dalam memerangi kejahatan siber.

Goldman Sachs menjelaskan kepada ABC bahwa pihaknya masih bereksperimen dengan teknologi game perang siber di divisi Eropa mereka.

Perusahaan ini memiliki 8.000 staf bidang teknologi untuk perang siber, memungkinkan mereka menguji keterampilan dan bersaing satu sama lain.

Serangan siber menimbulkan kerugian $ 18 miliar setiap tahun, namun kerusakan reputasi akibat peretasan merupakan masalah besar lainnya.

Menurut Johnson itulah alasan mengapa banyak perusahaan besar Australia berbagi kisah serangan siber mereka.

Halaman 3/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas