Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
ABC World

'Sosok Islami' Diperebutkan Jelang Pilpres 2019

Jelang penutupan pendaftaran calon presiden dan wakil presiden 10 Agustus 2018, perpolitikan di Indonesia semakin dinamis dengan sejumlah…

Tribun X Baca tanpa iklan

Ia mengaku Prabowo adalah sosok yang memiliki pandangan sama dengan PA 212, karena sama-sama ingin adanya perbaikan dan "selalu membela hak-hak umat Islam".

Saat ditanya bukankah Joko Widodo juga adalah beragama Islam dan berupaya melakukan pembangunan untuk penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim, Ustadz Bernard mengatakan, "upayanya masih kurang".

"Orang Islam itu banyak, ada yang abangan, ada yang cuek, ada pula yang memenjarakan ulamanya sendiri dan kita juga lihat keberpihakan Jokowi malah kepada bangsa lain, seperti orang-orang China yang datang begitu saja lalu diberi pekerjaan."

Tapi Ustadz Bernard menolak dengan tegas jika kelompoknya ingin mengubah Indonesia menjadi negara Islam, dengan alasan banyaknya komunitas minoritas dari agama lain yang perlu dilindungi sesuai ajaran Islam.

"Islam itu adalah agama toleran, tapi tentu ada yang perlu diperangi jika mereka juga memerangi dan menghina kami, jadi Islam itu bisa bersifat lembut, tapi juga tegas."

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut Dr Muradi memberikan label pro asing dan anti-Islam kepada Presiden Jokowi tidaklah pernah terbukti, tetapi isunya terus dimainkan.

"Kampanye #2019gantipresiden itu bukan semata-mata dari Muslim, tapi ada juga orang-orang Gerindra dan mereka yang bukan Muslim. Strategi yang dimainkan oleh 212 dan kubu lawan Jokowi lainnya ini lebih pada blocking politik," ujarnya.

Nyarwi Ahmad pun menyatakan hal senada, yakni pada intinya apa yang diinginkan oleh gerakan seperti PA 212 sebenarnya hanyalah untuk mengganti pemimpin yang kini sedang menjabat, yakni Presiden Joko Widodo.

Mengukur pengaruh \'kelompok Islam\'

Sejumlah pengamat memiliki pandangan berbeda soal apakah kelompok Islam seperti PA 212 akan memberikan pengaruh pada pilihan warga, khususnya di kalangan Muslim.

Dr Muradi mengatakan PA 212 hanyalah sebagai bentuk dinamisme gerakan poitik dengan kepentingan jangka panjang, meski harapan mereka untuk memenangkan sejumlah Pilkada, seperti di Jawa Barat ternyata meleset.

"Jadi mereka berharap bisa mendapatkan momentum baru untuk memperkuat eksistensinya dengan membangun isu semangat populisme keagamaan tertentu," ujarnya.

Menurutnya momentum dalam dunia politik tidaklah datang berkali-kali, karenanya mereka lebih memilih untuk mengusulkan nama-nama calon presiden dan wakilnya yang kurang lebih sama populernya dengan Jokowi di komunitas-komunitas.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas