Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
ABC World

Kesempatan Menetap di Australia Untuk Pemuka Agama dari Indonesia

Australia memberikan kesempatan bagi warga asing untuk bekerja dan tinggal di Australia, asalkan mereka memenuhi persyaratan untuk…

Tribun X Baca tanpa iklan

Kepada ABC Indonesia, Pastor Redempt yang tergabung dalam Kongregasi Redemptoris Propinsi Indonesia yang berpusat di Sumba, mengatakan ia mendapatakan kesempatan menjadi misionaris di luar negeri karena kebutuhan misi yang diemban kongregasinya.

"Biara kami itu internasional, sehingga kami diutus tergantung dimana ada kebutuhan," ujarnya.

Berasal dari Solor, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Pastor Redempt mendapatkan penempatan pertama di Auckland, Selandia Baru selama kurang lebih 7 tahun sejak tahun 2011, sebelum ke Melbourne.

Menurutnya gereja di Australia dan Selandia baru sangat peduli dengan keberagaman umat, yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda.

"Karenanya, gereja di Australia sangat memberikan kesempatan kepada orang-orang dari bangsa lain, sehingga umatnya bisa lebih bebas dan mudah untuk mengungkapkan keimanan mereka."

Tetapi baginya bertugas di mana pun pasti akan punya tantangan tersendiri.

Pastor Redempt mengalaminya selama bertugas di Selandia Baru di paroki dan komunitas warga Katolik Indonesia, dan sekarang dialami juga dalam tugasnya sebagai "formator" bagi calon imam Redemptorist di Australia.

Rekomendasi Untuk Anda

"Yang penting saya punya hubungan yang erat dengan Dia yang saya wartakan, yakni Tuhan Yesus Kristus," kata Pastor Redempt.

"Kalau relasi saya dengan Tuhan terjaga dengan baik, saya bahagia di mana pun diutus, tantangan dan budaya tidak jadi masalah."

Demi meneruskan misi yang dipercayakan kepada Kongregasi Redemptoris Propinsi Oceania, yang mencakup Australia, Selandia Baru, dan Samoa, mereka kini membuka diri untuk misi bersama dengan para Redemptoris dari Indonesia, Vietnam dan India.

Tak semua mau berikan sponsor

Sementara itu Pastor Harry Sibuea dari Gereja Shekinah di Melbourne lebih memilih menggunakan sumber daya manusia yang ada di Melbourne untuk membangun gerejanya yang beranggotakan 120 jemaat, yang termasuk gereja berskala menengah.

"Mungkin tergantung kebutuhan gereja kalau memang mereka butuh orang-orang yang memenuhi syarat," katanya kepada ABC.

Pastor Harry merasa gerejanya tidak perlu mendatangkan pekerja kegamaan dari Indonesia karena mereka memiliki "sistem memuridkan".

Tak hanya itu, hal lain yang menjadi pertimbangannya adalah biaya aplikasi visa dan biaya sponsor.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas