Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Keluh Kesah Petani Kopra Sulut

Sulawesi Utara juga dikenal dengan sebutan Bumi Nyiur Melambai, merujuk pada banyaknya pohon kelapa.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hendra Gunawan

TRIBUNNEWS.COM, MANADO -- Sulawesi Utara juga dikenal dengan sebutan Bumi Nyiur Melambai, merujuk pada banyaknya pohon kelapa. Namun kini banyak orang meninggalkan budidaya kelapa.

Minahasa Utara menjadi salah satu daerah penghasil kelapa terbesar di Sulawesi Utara. Dulu, banyak masyarakat menggantungkan hidupnya dari berbuahnya pohon kelapa.

Memasuki 2014, sulit sekali mencari petani kopra. Mereka banting setir setelah harga kopra jatuh, sementara biaya pemeliharaan sangat tinggi.

Martje Rambing, warga Airmadidi, Minut yang sebentar lagi akan merayakan ulang tahunnya ke-59 merasakan getirnya memelihara kelapa.

Sejak kecil, ia sudah bertanam kelapa dan membuat kopra. Adapun ketika berumah tangga, baru 10 tahun yang lalu, ia mengusahakan keuntungan di tanahnya sendiri.

Tapi dari usahanya itu, ia merasa tidak menemukan manisnya keuntungan pohon kelapa. Ia mengatakan, dari apa yang didengarnya, usaha kopra dari kelapa hanya sempat booming di tahun 80-an. Sisa tahun yang lain ditandai dengan terjun bebasnya harga.

"Sekarang seratus kilogram harganya hanya Rp 400 ribu," ujar Martje tanpa semangat.

Rekomendasi Untuk Anda

Jika ia mampu memproduksi seratus kilogram, keuntungan dari situ juga harus dibagi dua. Dari semua penghasilan, ia harus membagi dua  dengan yang bekerja untuk mengambil, dan mengolahnya menjadi kopra.

Ini menunjukkan kelapa kurang memberi penghasilan lumayan bagi pemiliknya. Budidaya kelapa akhirnya menjadi kurang diminati dibandingkan budidaya cengkih.

Meskipun begitu, Martje tetap bertahan. Walau akhirnya kelapa dipanen dua kwartal sekali, kegiatan itu tetap dilakukan. Sudah sejak lama, kelapa dibiarkan jatuh sendiri dan bertumbuh di tempat yang tidak direncanakan. Hingga kini perlakuan itu tetap diberikan bagi sebelas pohon kelapanya.

"Kan tergantung juga orang yang bekerja untuk menaiki. Rata-rata mereka sekarang menjadi tukang ojek," katanya.

Kelapa pun tidak menaikkan harkat hidup Martje. Rumahnya tetap kecil sederhana.
"Tidak ada yang dapat dibeli. Anak-anak juga tidak sekolah tinggi. Ini hanya untuk kebutuhan dapur," tuturnya lagi.

Memang meskipun terkenal dengan sebutan Nyiur Melambai, Martje menyadari bahwa hidup mereka yang bergantung kepadanya tidak semanis sebutannya. Selain dibiarkan, banyak pohon yang sudah dipotong dahulu untuk membuat rumah.

Pada saat harga naik pun, Martje tidak akan mendapatkan apa-apa. Kelapa akan dijajakan berlebihan di jalan-jalan. Dan Martje akan kehilangan kesempatan untuk meraih keuntungan lebih.

"Minyak itu licin. Jadi kalau bermimpi memegang uang banyak, akan jatuh karena licinnya harga minyak," tandasnya. (david manewus)

Sumber: Tribun Manado
Tags:
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas