Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun Bisnis

Imbal Hasil Reksadana Saham Ungguli Laju IHSG

"Investor asing kemudian melakukan diversifikasi dan Indonesia terpilih menjadi salah satu negara tujuan."

Editor: Choirul Arifin
zoom-in Imbal Hasil Reksadana Saham Ungguli Laju IHSG
KOMPAS IMAGES
ILUSTRASI 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Kinerja reksadana saham mulai menggembirakan. Mengutip Infovesta Utama, rata-rata return atau imbal hasil reksadana saham sepanjang semester I 2016 mencapai 9,59%.

Kinerja tersebut mengungguli produk lain, seperti reksadana pendapatan tetap yang membagikan return 7,78%.

Demikian juga dengan rata-rata imbal hasil reksadana campuran yang sekitar 9% dan reksadana pasar uang yang sebesar 2,5% pada periode yang sama.

Rata-rata return reksadana saham juga mampu mengalahkan kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang berkisar 9,22%.

Padahal sebelumnya, reksadana pendapatan tetap selalu memimpin kinerja reksadana.

Return reksadana pendapatan tetap year to date (YTD) Mei 2016 tercatat 6,21% atau di atas rata-rata return reksadana saham dan campuran yang masing-masing sekitar 4,88% dan 5,42%.

Chief Economist dan Director Investor Relations PT Bahana TCW investment Management Budi Hikmat mengatakan, kondisi tersebut disebabkan oleh moncernya kinerja obligasi sepanjang kuartal I.

Berita Rekomendasi

Saat itu, yield obligasi turun seiring tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) di awal tahun. Akibatnya, harga obligasi terangkat.

"Mulanya kinerja obligasi mendahului saham pada kuartal I," ujar Budi, Jakarta, Jumat (1/7/2016).

Di sisi lain, investor optimistis pasar saham akan membaik mengikuti penurunan yield obligasi di awal tahun. Apalagi terdapat indikasi penguatan daya beli melalui dampak pengeluaran pemerintah.

Namun, sentimen positif dari domestik tak berjalan mulus menopang pasar saham.

Pasalnya, sejumlah faktor eksternal seperti isu kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, the Fed ikut menyeret penurunan IHSG. "Indeks saham global tercatat turun sejak akhir April," tambah Budi.

Sentimen tersebut diikuti oleh penguatan dollar Amerika Serikat dan berimbas terhadap melemahnya nilai tukar rupiah.

Akibatnya, currency risk investor menjadi meningkat sehingga kinerja produk berbasis saham tertinggal ketimbang obligasi.

Halaman
12
Sumber: Kontan
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas