Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Faisal Basri: Penganggaran Pemerintah Atas Proyek Infrastruktur Masih Acak-acakan

"Presiden harus diingatkan. Makanya saya membuat surat terbuka itu. Pernyataan yang saya sampaikan di situ rasanya sudsh cukup keras."

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Choirul Arifin
zoom-in Faisal Basri: Penganggaran Pemerintah Atas Proyek Infrastruktur Masih Acak-acakan
TRIBUNNEWS.COM/CHOIRUL ARIFIN
Ekonom senior Faisal Basri di acara Seminar Nasional Sekuritisasi Aset BUMN di kantor pusat Jasa Marga, Senin (16/10/2017). 

Dia menilai, Indonesia relatif tertinggal dari negara lain di bidang infrastruktur. Sekuritisasi aset bisa menjadi pilihan mencari sumber pendanaan untuk membiayainya.

Namun dia mengingatkan, pembiayaan infrastruktur lewat sekuritisasi aset harus benar-benar berasal dari aset berkualitas baik milik BUMN.

Selain Jasa Marga yang sudah sukses mensekuritisasi aset dari ruas jalan tol Jagorawi-nya, BUMN lain dinilainya juga bisa mengikuti jejak Jasa Marga.

Misalnya, BUMN operator bandara PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero) dari potensi pendapatan pengoperasian sejumlah bandaranya.

Faisal menilai, Angkasa Pura I dan II layak melakukan sekuritisasi aset-asetnya lantaran dua BUMN ini memiliki pendapatan yang stabil dari aktivitas pengoeprasian bandaranya, tidak hanya dari jasa pergerakan pesawat yang landing dan take off, tapi juga dari para tenant yang menyewa lahan dan ruangan di area bandara untuk aktivitas bisnis.

Baca: Cari Sumber Pendanaan, BTN Sejak 2009 Sudah Sekuritisasi Aset KPR-nya

Deputi BUMN Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius K Ro di tempat sama mengatakan, sekurititasi aset bisa menjadi solusi pembiayaan dengan menggunakan konsep capital recycling dari aset produktif dan memiliki cash flow stabil.

Rekomendasi Untuk Anda

"Aset produktif digunakan sebagai underlying dalam pembiayaan aset baru (greenfield/brownfield)," ungkapnya.

Kelebihan metode ini, lanjut Aloysius, BUMN sebagai penerbit instrumen sekuritisasi dapat langsung menerima pembayaran di depan.

Selain itu risiko juga diklaim terbatas. "Risiko pembayaran dapat dimitigasi dengan dilakukan pembatasan atas pendapatan dan cash flow perusahaan di masa datang," imbuhnya.

"Sekuritisasi aset jalan tol Jagorawi oleh PT Jasa Marga Tbk adalah sebuah sukses besar dan sekarang diikuti oleh PT PLN," lanjutnya.

Penulis: Choirul Arifin

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas