Tribun Bisnis

Pemerintah Buka Opsi Baru Naikkan Harga BBM

Jika harga minyak mentah sudah di atas US$ 60 per barel, maka harga jual Premium kemungkinan besar ikut terkerek.

Editor: Choirul Arifin
Pemerintah Buka Opsi Baru Naikkan Harga BBM
Tribunnews/JEPRIMA
Awak Mobil Tangki (AMT) bersiap melakukan pengisian bahan bakar minyak ke dalam mobil tangki Pertamina di Terminal BBM Jakarta Group Plumpang, Jakarta Utara, Senin (27/11/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harga minyak mentah masih dalam tren melaju. Pemerintah pun kembali menaikan harga Indonesia Crude Price (ICP) bulan November 2017 di level US$ 59 per barel atau lebih tinggi 9,21% dari bulan Oktober 2017 yang mencapai US$ 54,02 per barel.

Melihat tren kenaikan harga minyak mentah tersebut, pemerintah pun terbuka untuk menyelaraskan kembali harga bahan bakar minyak (BBM) dengan harga minyak pada tahun 2018 mendatang.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial mengatakan, jika pada awal tahun, harga minyak mentah tembus ke level US$ 60 per barel maka pemerintah akan menyesuaikan harga BBM.

"Tahun 2018 awal ini, kami lihat, kalau harga minyak di atas US$ 60 per barel ya kemungkinan yang namanya penetapan itu akan kami sesuaikan," kata Ego, Senin (4/12/2017).

Padahal, sebelumnya pemerintah sesumbar tidak akan menaikan harga BBM hingga akhir 2018 walau harga minyak mentah terus meningkat.

Ego menambahkan, jika harga minyak mentah sudah di atas US$ 60 per barel, maka harga Premium kemungkinan besar ikut terkerek.

"Sekarang kan US$ 58 per barel atau US$ 59 per barel, kalau lewat US$ 60 per barel kami harus bersikap, misalnya seperti Premium Rp 6.450 per liter, apakah menjadi Rp 6.750 per liter. Bisa saja terjadi, artinya pemerintah terbuka," jelas Ego.

Mengubah formulasi

Namun, sebelum sampai pada opsi menaikkan harga, Pemerintah mengaku akan berupaya mencari cara agar harga BBM tetap efisien di tengah kenaikan harga minyak mentah. Salah satu caranya adalah dengan merubah perhitungan formulasi harga.

"Misalkan apakah biaya over\head Pertamina bisa diefisensikan. Terus terang kami mencari titik tengah supaya daya beli masyrakat tetap harus terjaga," ujar Ego.

Halaman
12
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas