Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

KPPU Endus Adanya Praktik Bisnis Tak Sehat OVO di Banyak Pusat Perbelanjaan

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengendus adanya bisnis tak sehat OVO di banyak pusat perbelanjaan.

KPPU Endus Adanya Praktik Bisnis Tak Sehat OVO di Banyak Pusat Perbelanjaan
Ist
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengendus adanya bisnis tak sehat OVO di banyak pusat perbelanjaan. 

TRIBUNNEWS.COM - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengendus adanya bisnis tak sehat OVO di banyak pusat perbelanjaan.

KPPU melihat, ada indikasi praktik bisnis yang kurang sehat yang dilakukan oleh platform pembayaran yang juga terafiliasi dengan Grup Lippo tersebut.

“Penelitian oleh KPPU dilakukan di semua tempat parkir perbelanjaan,” ujar Komisioner sekaligus juru bicara KPPU, Guntur S Saragih, Selasa (16/7).

Baca: OVO Kuasai Pembayaran Parkir di Mal, KPPU Teliti Indikasi Persaingan Tak Sehat

Baca: OVO Sediakan Layanan Vending Machine Pintar di Kampus Pelita Harapan

Sehingga, jika ada alasan pembayaran merupakan bagian dari ekosistem platform digital, hal ini menurut Guntur tak bisa dibenarkan. “Konsumen tetap memiliki ruang untuk memilih penyedia jasa,” imbuhnya.

Sebab pusat perbelanjaan merupakan tempat yang terbuka untuk umum. Bukan tempat yang hanya boleh didatangi pihak terbatas. ”Pusat perbelanjaan itu jatuhnya publik,” tandas Guntur.

Bukan hanya itu, sekalipun Lippo dan OVO terafiliasi, dengan memberikan kewenangan mengelola pembayaran di parkiran pusat perbelanjaan milik Lippo juga seharusnya tidak diperbolehkan.

Pasalnya, hal ini menutup peluang terhadap pelaku lain yang memiliki layanan dan kemampuan seperti OVO.

Baca: Belum Ada Langkah Hukum Terhadap Pemilik Akun Facebook yang Provokasi Tak Pasang Foto Presiden

Baca: Permudah Layanan Top Up, Ovo Gaet Kemitraan dengan Jaringan Prima

Karena faktanya, Guntur menambahkan, saat ini masyarakat memiliki beragam alat transaksi pembayaran berbasis digital termasuk dalam bentuk kartu. OVO hanya salah satu di antaranya saja.

”Kalau pusat perbelanjaan ingin cashless, dia tidak bisa satu pilihan saja. Kalau misalnya ada 10 saja alat pembayaran yang tersedia sekarang dan sudah digunakan masyarakat, masa harus dimiliki seluruhnya, tidak efisien dong bagi masyarakat. Harus ada pilihan,” terangnya. 

Atas dasar itu, KPPU saat ini sedang melakukan penelitian mendalam mulai dari latar belakang sampai praktik yang terjadi melibatkan OVO di pusat perbelanjaan milik Lippo. Setelah ini baru meningkat ke penyelidikan,” ucap Guntur.

Penelitian akan dilakukan mencakup seluruh pihak baik itu OVO maupun pengelola pusat perbelanjaan terkait.

Baca: Prudential dan Ovo Umumkan Kemitraan Strategis di Indonesia

Baca: Permudah Layanan Top Up, Ovo Gaet Kemitraan dengan Jaringan Prima

(Kontan.co.id/Dityasa H Forddanta)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul KPPU mengendus praktik bisnis tidak sehat OVO di banyak pusat perbelanjaan.
 
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Fitriana Andriyani
Sumber: Kontan
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas