Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kemenperin Dorong Tenaga Kerja Berkualitas untuk Industri Tekstil

Eko menjelaskan, pihaknya telah melakukan penyelarasan kurikulum dan silabus di SMK sesuai dengan kebutuhan industri.

Kemenperin Dorong Tenaga Kerja Berkualitas untuk Industri Tekstil
Ria Anatasia/tribunnews.com
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Eko S.A Cahyanto saat ditemui di kantornya, Senin (12/8/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pasokan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten untuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) melalui program Diklat 3in1. Diklat 3in1 tersebut meliputi pelatihan, sertifikasi hingga penempatan kerja.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Eko S.A Cahyanto mengatakan, program ini guna menciptakan lulusan yang link and match atau sesuai kebutuhan industri.

Saat ini, lulusan diklat 3in1 adalah sebanyak 303 peserta dari beberapa wilayah di DKI Jakarta, Jawa Tengah hingga Lampung. Kemenperin menggandeng sejumlah pelaku usaha, di antaranya Asia Citra Pratama, Central Sandang Jayatama, Harapan Global Apparel, Pan Asia Jaya Abadi, Sima prima Indonesia untuk penempatan kerja mereka.

Baca: Penyebab Kapten Timnas U-15 Malaysia Pukul Pemain Thailand di Final Piala AFF U-15

Baca: BNN Bongkar Modus Baru Pengiriman Setengah Ton Ganja, Dikirim Lewat Kapal Api

Baca: IHSG Diprediksi Bakal Konsolidasi, Simak 9 Saham Pilihan Berikut

Baca: Peringatan Dini BMKG Hari Ini Selasa 13 Agustus 2019: Waspadai Cuaca Buruk dan Gelombang Tinggi

"Para peserta itu sudah mengikuti pelatihan sejak 22 Juli sampai 10 Agustus 2019 di BDI Jakarta. Dari 303 peserta, yang sudah tersertifikasi sebanyak 283 orang karena telah memenuhi kualifikasi. Sisanya kami akan fasilitasi untuk resertifikasi agar mereka mencapai level yang sama," ujar Eko di kantor Kemenperin, Senin (12/8/2019).

Eko menjelaskan, pihaknya telah melakukan penyelarasan kurikulum dan silabus di SMK sesuai dengan kebutuhan industri.

Selain itu dilakukan penyusunan modul untuk materi pembelajaran tambahan. 

“Hingga saat ini, sudah ada sebanyak 35 kompetensi keahlian bidang industri,” ujarnya.

Agar kurikulum hasil penyelarasan dapat diimplementasikan dengan baik, menurut Eko, perlu ada peningkatan kompetensi guru bidang produktif. Mulai tahun 2018, Kemenperin telah memfasilitasi pelatihan sebanyak 508 guru SMK dan program pemagangan guru SMK sebanyak 1.233 orang.

Pada 2019, Kemenperin akan memprogramkan peningkatan kompetensi guru produktif SMK, yakni melalui program pemagangan yang ditargetkan diikuti sebanyak 1.000 guru dan pelatihan sebanyak 1.000 guru. 

“Kami harapkan, guru-guru SMK dapat memanfaatkan kesempatan ini guna terlaksananya program link and match dengan industri,” ungkapnya.

Selanjutnya, Kemenperin terus mendorong penyediaan peralatan praktikum yang memadai di SMK. Pasalnya, selain ketersediaan guru produktif, implementasi kurikulum hasil penyelarasan juga memerlukan ketersediaan peralatan praktikum minimal di SMK agar siswa dapat dibekali dengan keterampilan teknis dasar sebelum masuk ke industri. 

“Untuk itu, dalam setiap kegiatan launching vokasi industri selalu diiringi dengan pemberian hibah peralatan dari industri,” sebutnya. 

Guna mendorong penyediaan peralatan praktikum, pada tahun 2017 Kemenperin juga telah merealokasi anggaran sebesar Rp35 miliar, ditujukan untuk bantuan peralatan praktikum minimum kepada 74 SMK.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Ria anatasia
Editor: Hendra Gunawan
  Loading comments...
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas