Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Ekonom: Pemerintah Tak Bisa Terus Andalkan Penerimaan Cukai hanya Pada Tiga Objek

Pasalnya target penerimaan cukai terus tumbuh setiap tahun, sedangkan barang kena cukai hanya sebanyak tiga objek.

Ekonom: Pemerintah Tak Bisa Terus Andalkan Penerimaan Cukai hanya Pada Tiga Objek
KOMPAS.com/AMIR SODIKIN
ILUSTRASI -Tarif cukai hasil tembakau atau cukai rokok akan naik mulai 1 Januari 2020. Rata-rata kenaikan cukai rokok sebesar 21,55 persen. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) guna menekan tingkat konsumsi rokok serta menggenjot penerimaan negara dinilai sejumlah pengamat tidak tepat. 

Satu di antaranya disampaikan oleh Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara. 

Menurutnya, kebijakan pemerintah melakukan ekstesifikasi cukai atau perluasan objek cukai dalam menurunkan dampak negatif belum berjalan efektif.

Karena itu, kata dia, pemerintah tidak bisa mengandalkan terus menerus pada penerimaan cukai hanya pada produk hasil tembakau, alkhohol, dan minuman beralkohol. 

Pasalnya target penerimaan cukai terus tumbuh setiap tahun, sedangkan barang kena cukai hanya sebanyak tiga objek. 

"Objek kena cukai tidak berubah sejak undang-undang cukai diberlakukan pada tahun 1995 hingga saat ini," kata Bhima Yudhistira Adhinegara dilansir Warta Kota Senin (27/1/2020). 

"Jika pungutan cukai hanya ketiga objek ini, tidak akan mendukung penerimaan cukai ke depan," tambahnya.

Bhima Yudhistira Adhinegara membandingkan objek cukai di Indonesia dengan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN. 

Objek cukai di Indonesia diungkapkannya tertinggal dengan objek negara-negara ASEAN yang rata-rata memungut cukai pada tujuh objek. 

"Bahkan di Thailand ada cukai kendaraan bermotor karena asapnya dianggap jadi sumber polusi udara," terangnya.

Halaman
1234
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas