Tribun Bisnis

''Dikandangkan'' di Banyak Negara, 737 Max Kembali Diproduksi oleh Boeing

Boeing tengah melanjutkan produksi pesawat jenis 737 Max yang tengah dikandangkan di banyak negara di dunia.

Editor: Sanusi
zoom-in ''Dikandangkan'' di Banyak Negara, 737 Max Kembali Diproduksi oleh Boeing
ABC
Pesawat Boeing 737 Max 8 buatan Boeing. 

TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK - Boeing tengah melanjutkan produksi pesawat jenis 737 Max yang tengah dikandangkan di banyak negara di dunia.

Sebelumnya, Boeing sempat menghentikan produksi pesawat jenis tersebut pada Januari seiring dengan pengandangan 737 Max secara masal di seluruh negara di dunia berlangsung lebih lama dari yang diharapkan.

Dikutip dari CNBC, maskapai telah dilarang ujntuk menerbangkan pesawat jenis 737 Max sejak bulan Maret 2019 lalu setelah dua kecelakaan pesawat terjadi di Indonesia dan Ethiopia yang menewaskan 346 jiwa. Kedua kecelakaan tersebut terjadi hanya dalam waktu lima bulan.

Kembali diproduksinya 737 Max telah diperkirakan banyak pihak, selain itu, hal tersebut merupakan batu loncatan baru bagi Boeing.

Perusahaan telah berhenti melakukan pengiriman jenis armada pesawat itu setelah kecelakaan kedua terjadi.

Puing pesawat Ethiopian Airlines tipe Boeing 737 MAX 8 yang jatuh setelah lepas landas dari Bandara Bole di Addis Ababa, Etthiopia, Minggu (10/3/2019). Sebanyak 157 orang tewas dalam kecelakaan tragis ini.
Puing pesawat Ethiopian Airlines tipe Boeing 737 MAX 8 yang jatuh setelah lepas landas dari Bandara Bole di Addis Ababa, Etthiopia, Minggu (10/3/2019). Sebanyak 157 orang tewas dalam kecelakaan tragis ini. (ABS-CBN News)

Produsen pesawat itupun telah mencatatkan lonjakan pembatalan pesanan pesawat dari banyak pelangan tahun ini seiring dengan pandemi virus corona yang juga kian menekan kinerja perusahaan.

Boeing masih melanjutkan produksi pesawat jenis 737 Max sebelum akhirnya berhenti di Januari.

Di sisi lain, ratusan dari hasil produksi tersebut telah menumpuk di gudang penyimpanan di Amerika Serikat.

Mesin turbin pesawat Lion Air PK-LQP nomor penerbangan JT 610 diturunkan TNI AL dari Landing Craft Utility (LCU) KRI Banda Aceh, Minggu (4/7/2018). TRIBUNNEWS.COM/GITA IRAWAN
Mesin turbin pesawat Lion Air PK-LQP nomor penerbangan JT 610 diturunkan TNI AL dari Landing Craft Utility (LCU) KRI Banda Aceh, Minggu (4/7/2018). TRIBUNNEWS.COM/GITA IRAWAN (Tribunnews.com/Gita Irawan)

Proses sertifikasi ulang untuk pesawat-pesawat yang telah diproduksipun tertunda karena banyak masalah baru yang muncul.

Selain itu, banyak pula htugas yang harus diselesaikan Boeing berjalan lebih lama dari yang diperkirakan.

Namun demikian, Boeing menolak berkomentar apakah Administrasi Penerbangan Federal (FAA) dalam waktu dekat memberikan sertifikasi layak terbang untuk armada 737 Max.

"Pekerjaan pada proyek berlanjut, seperti halnya penolakan kami untuk berspekulasi pada kerangka waktu untuk menyelesaikannya," kata FAA dalam sebuah pernyataan.

Tahun lalu maskapai-maskapai di dunia telah meminta produsen pesawat untuk memproduksi pesawat hemat bahan bakar untuk membantu permintaan perjalanan yang tinggi.

Namun demikian tahun ini, maskapai justru dihadapkan pada kondisi yang bertolak belakang, terlalu banyak pesawat dengan kapasitas penumpang yang nyaris nol lantaran pandemi.

Boeing pun saat ini tengah berupaya untuk memangkas ongkos produksi lantaran perusahaan tengah dihadapkan pada kondisi tingkat permintaan pesawat baru yang suram.

Sebelumnya, CEO Boeing Dave Calhoun sempat menyatakan perusahaan bakal memutus hubungan kerja sekitar 7.000 pekerja pekan ini.

Jumlah tersebut hanya sedikit dari rencana pemangkasan sebesar 10 persen dari keseluruhan pegawai Boeing yang mencapai 160.000 orang.

Adapun produksi dari 737 Max akan berlangsung secara perlahan dan bertahap.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Boeing Kembali Produksi 737 Max"

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas