Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Sandiaga Uno Nilai Budaya Impor Buat Indonesia Rentan Krisis Pangan

Misalnya 35 persen pasokan bawang putih, 24 daging sapi, dan 55 persen gula didatangkan dari luar negeri.

Sandiaga Uno Nilai Budaya Impor Buat Indonesia Rentan Krisis Pangan
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengusaha sekaligus mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno mengatakan kebiasaan atau budaya impor membuat Indonesia rentan terhadap krisis pangan.

"Covid-19 ini akan menjadi kekhawatiran bahan pangan bagi banyak negara. Sebagai negara pengimpor, Indonesia sangat rentan," ucap Sandi, sapaannya dalam diskusi virtual bertajuk Solusi Teknologi Dampak Covid-19 di Jakarta, Selasa (2/6/2020).

Bakal calon Wakil Presiden RI periode 2019-2024 tersebut menyebut kebutuhan beberapa komoditas masih berasal dari impor.

Misalnya 35 persen pasokan bawang putih, 24 daging sapi, dan 55 persen gula didatangkan dari luar negeri.

Baca: Tren Kesehatan di Era New Normal, Pembelian Makanan dan Minuman Sehat Jadi Prioritas

Baca: Komite I DPD RI Tidak Setuju Pilkada Serentak 9 Desember

Baca: Pasien Covid-19 di Kabupaten Kediri Bertambah 5 Orang, Diantaranya Disumbang Pabrik Rokok Tulungagun

Baca: Tyson Fury Siap Alih Profesi Menjadi Petarung Seni Bela Diri Campuran alias Mixed Martial Arts

"Persoalannya kalau pangan dalam kondisi terdesak negara lain yang biasa mengekspor juga akan semakin selektif," tutur Sandi.

Menurutnya, Indonesia perlu mengembangkan inovasi melalui teknologi peningkatan produksi pangan dalam negeri dengan mengadopsi kecerdasan buatan seperti (Artificial Intelligence/AI), Internet of Things (IoT), ATM beras, urban farming, city farming, serta digital food value chain platform.

"Skenario ketersediaan/ketahanan pangan harus dipersiapkan kita jangan terus2an bergantung pada impor. Apalagi ada kemungkinan PHK 7-12 juta. Tentu digitalisasi harus didorong. pasar sudah terbentuk," papar Sandi.

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro menegaskan permintaan impor terhadap beberapa komoditas harus dilakukan selama belum ada substitusi pangan.

Dia memandang substitusi pangan menjadi satu di antara alternatif untuk menekan angka impor.

"Sebagai contoh negara kita kan konsumer mie instan terbesar di dunia. Mie instan bahan dasarnya terigu, gandum itu tidak bisa ditanam di Indonesia, jadi harus impor," kata Bambro di kesempatan yang sama.

Menteri Bambang mengatakan harus ada inovasi substitusi bahan baku mie misalnya dari jagung atau singkong.

"Secara ilmiah ini sudah ada banyak (substitusi). Hanya kita belum membawa ini dalam skala yang besar. Bahkan beras pun bisa dicari subtitusinya," imbuhnya.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Hendra Gunawan
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas