Tribun Bisnis

Menristek: Bandara Baru Yogyakarta Aman dari Potensi Tsunami Selatan Jawa

Tim riset Institut Teknologi Bandung (ITB) memperingatkan terjadinya potensi tsunami setinggi 20 meter di pesisir Selatan Jawa Barat dan Jawa Timur.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Choirul Arifin
Menristek: Bandara Baru Yogyakarta Aman dari Potensi Tsunami Selatan Jawa
HANDOUT
New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, Rabu (24/4/2019). 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi/ Badan Riset Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo, Yogyakarta siap menghadapi potensi ancaman gempa bumi megathrust dan tsunami yang diprediksi akan menyapu wilayah selatan Jawa.

Menurut Bambang, rancangan pembangunan NYIA telah mempertimbangkan potensi bencana seperti gempa dan tsunami.

"Bandara Kulon Progo, bandara baru di Jogja yang menurut penjelasan angkasa pura itu sudah didesain, pertama untuk gempa kalau tidak salah dengan kekuatan yang sangat tinggi, di atas 7 kalau tidak salah, jadi desainnya cukup kuat untuk gempa skala besar," ujar Bambang dalam konferensi pers daring, Rabu (30/9/2020).

Bambang mengatakan pembangunan telah mempertimbangkan aspek mitigasi bencana. Meski bandara tersebut berada dekat dengan pantai selatan.

Baca: Menristek: Riset Soal Potensi Tsunami di Selatan Jawa bukan untuk Menakuti Masyarakat

Menurutnya, bandara ini telah dipersiapkan untuk menghadapi bencana tsunami yang terjadi di wilayah selatan Jawa.

"Sudah didesain pula kalau ada tsunami sudah ada cara mitigasi terhadap risiko tsunami itu sendiri di Bandara Kulon Progo," ucap Bambang.

Baca: Tiga Rekomendasi K2MPB kepada Pemkab Garut Sebagai Upaya Mitigasi Terjadinya Tsunami 20 Meter

Seperti diketahui, tim riset Institut Teknologi Bandung (ITB) memperingatkan terjadinya potensi tsunami setinggi 20 meter di pesisir Selatan Jawa Barat dan Jawa Timur.  

Penelitian itu berdasarkan hasil pengolahan data gempa yang tercatat stasiun pengamat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dan data Global Positioning System (GPS).

Hasil riset tersebut telah diterbitkan dalam Jurnal Nature Scientific report pekan lalu.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas