Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Harga Minyak Naik Jadi Beban Indonesia, Pelemahan Rupiah di Depan Mata

Pengamat komoditas Ariston Tjendra mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), impor minyak mentah Indonesia setara 2,4 kali ekspor. 

Harga Minyak Naik Jadi Beban Indonesia, Pelemahan Rupiah di Depan Mata
Finance and Markets
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Data ekspor impor sektor minyak dan gas (migas), khususnya minyak mentah di 2020 menunjukkan adanya selisih negatif yang masih besar. 

Pengamat komoditas Ariston Tjendra mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), impor minyak mentah Indonesia setara 2,4 kali ekspor. 

"Impor minyak mentah yakni 3,3 miliar dolar AS berbanding ekspor 1,3 miliar dolar AS," ujarnya mengutip akun YouTube miliknya "About Money", Selasa (16/3/2021). 

Menurut dia, selisih itu terhitung masih cukup besar meskipun rasio tersebut sudah menurun dibanding 2019 yang perbandingannya 3,3 kali. 

"Bisa dibayangkan dengan naiknya harga minyak mentah dunia, rasio impor minyak mentah yang masih tinggi bisa membebani neraca transaksi berjalan Indonesia," kata Ariston. 

Baca juga: Rupiah Kembali Melemah ke Rp 14.410 per Dolar AS, Ini Pergerakan Mata Uang di Asia

Karena itu, jika tidak bisa mengantisipasi impor minyak, maka diyakini kembali ada defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). 

Baca juga: Pemerintah Diminta Bersiap Jika Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS per Barrel

"CAD yang sudah surplus bisa jadi defisit kembali dan bila defisit, maka pelemahan nilai tukar rupiah sudah di depan mata," pungkasnya.

Ikuti kami di
Penulis: Reynas Abdila
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas