Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Buruh Diharapkan Tingkatkan Kapasitas Diri, Lihat Sektor Berpotensi

Asep mengaku menghadapi sejumlah tantangan di bidang pertanian, tetapi akhirnya bersama kelompok tani berhasil menanam cabai, kembang kol

Buruh Diharapkan Tingkatkan Kapasitas Diri, Lihat Sektor Berpotensi
Tribunnews/Herudin
Puluhan buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melakukan unjuk rasa di sekitar patung Arjuna Wijaya, Jakarta Pusat, Rabu (21/4/2021). Aksi lanjutan ini untuk mendesak pembatalan atau pencabutan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Aksi tersebut dilakukan terpisah di beberapa tempat di 24 provinsi dan 150 kabupaten atau kota, seperti gedung Mahkamah Konstitusi (MK), di depan kantor gubernur, bupati, dan wali kota setempat, hingga pabrik-pabrik buruh. Tribunnews/Herudin 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menjelang Hari Buruh atau May Day 2021, para buruh diharapkap dapat meningkatkan kapasitas diri dan tidak hanya bergantung pada perusahaan tempat bekerjanya. 

Mantan Sekwil Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Asep Eka Dwi Sunandar, yang berharap semua buruh, khususnya di Kalimantan Tengah turut melihat peluang di sektor - sektor berpotensi.

"Kita juga perlu memikirkan dan menggerakkan sektor lain, misalnya pertanian di Palangkaraya, sehingga mampu swasembada sayur mayur dan kebutuhan pangan lainnya, tidak cukup menuntut ini dan itu, tapi perlu meningkatkan kualitas dan kapasitas para petani di sini. Peluang pengembangan pertanian terbuka lebar," kata Asep dalam keterangannya, Kamis (29/4/2021).

Belajar dari pengalaman dirinya yang beralih jadi petani di Palangkaraya, Asep mengaku menghadapi sejumlah tantangan di bidang pertanian, tetapi akhirnya bersama kelompok tani berhasil menanam cabai, kembang kol, kacang panjang, brokoli dan sebagainya. 

Baca juga: Tolak Omnibus Law, 50 Ribu Buruh Siap Peringati May Day

"Setidaknya kita bisa mengoptimalkan lahan dalam kondisi tanah yang tidak mendukung. Dengan hasil yang melimpah, kita bisa jual dengan harga kompetitif. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan Palangkaraya saja masih sangat kurang," ucapnya. 

Baca juga: KSPI: UU Cipta Kerja Terbukti Tidak Berikan Kepastian Pendapatan, Buruh dan Mahasiswa Bergerak

Mulai sejak 2016, Asep mengaku setiap tahun omset usaha bisa mencapai ratusan juta. 

“Tantangan terberat adalah mengubah paradigma. Kita mengajak orang bergabung menghasilkan sesuatu dengan bercocok tanam, kita harus yakinkan dulu diri kita sehingga bisa menjadi contoh bagi mereka. Kalau sudah kelihatan, orang lain akan melihat,” ungkapnya.

Baginya, hal yang paling membanggakan adalah produk yang dibuat bisa laku dijual karena kualitas. 

"Dari sana kita mendapat perhatian kepala daerah. Dan beberapa waktu lalu, Kelompok Tani yang kami bentuk audiensi dengan Walikota dengan menyampaikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan," katanya.

Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas