Tribun Bisnis

Pelaku Usaha Ritel Khawatir Omzet Makin Tertekan Jika Cukai Rokok Naik

Rencana kenaikan tarif cukai hasil tembakau pada tahun depan membuat khawatir pelaku usaha ritel tertekan pendapatannya

Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: Sanusi
Pelaku Usaha Ritel Khawatir Omzet Makin Tertekan Jika Cukai Rokok Naik
ist
ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rencana kenaikan tarif cukai hasil tembakau pada tahun depan membuat khawatir pelaku usaha ritel tertekan pendapatannya, karena saat ini omzet telah anjlok hingga 50 persen akibat pandemi Covid-19.

Ketua Asosiasi Koperasi Ritel Indonesia (Akrindo) Sriyadi Purnomo mengatakan, ketika tarif cukai rokok naik, konsumen akan memilih dan memilah rokok berdasarkan pertimbangan harga.

Baca juga: Bea Cukai-BNN Ungkap Penyelundupan 218,8 Kilogram Sabu Jaringan Aceh

“Selanjutnya akan ada penurunan, atau munculnya rokok ilegal semakin marak karena harganya lebih murah, terutama di pedagang eceran. Otomatis konsumen berkurang, omzet juga berkurang,” kata Sriyadi dalam keterangannya, Senin (23/8/2021).

Sriyadi mencontohkan, toko retail di kawasan industri, baik di sekitaran pabrik dan perkantoran yang paling merasakan dampak pandemi.

Baca juga: Daya Beli Lesu, KNPK Tolak Rencana Kenaikan Tarif Cukai Rokok Tahun Depan

Bahkan, kata Sriyadi, selama pandemi kaum pria sebagai kepala rumah tangga mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga para istri yang kini menjalankan fungsi sebagai tulang punggung keluarga.

“Seperti yang terjadi di Jawa Timur, para suami-suami pekerja terkena PHK, maka istri yang merupakan buruh linting juga harus mengambil peran pencari nafkah. Mengatasi situasi sulit seperti itu, mereka mulai berjualan” papar Sriyadi.

Karena itu, Sriyadi berharap Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) yang dialokasikan pemerintah benar-benar bisa menyentuh para pekerja tembakau yang terdampak.

“Misalnya dengan memberdayakan para suami-suami dari istri pekerja tembakau yang terdampak atau terkena PHK bisa mendapatkan pelatihan atau bantuan modal di bidang peternakan, pertanian, sehingga mereka tetap bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidup,” pungkasnya.

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas