Tribun Bisnis

Kenaikan Harga Minyak Dunia Dongkrak Penerimaan Negara Sebesar Rp 136,8 Triliun

Kenaikan harga minyak dunia membuat penerimaan negara dari industri hulu minyak dan gas bumi (migas) pada kuartal III 2021 melampuai target

Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: Muhammad Zulfikar
Kenaikan Harga Minyak Dunia Dongkrak Penerimaan Negara Sebesar Rp 136,8 Triliun
Pertamina
Kilang migas Pertamina. Kenaikan Harga Minyak Dunia Dongkrak Penerimaan Negara Sebesar Rp 136,8 Triliun 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kenaikan harga minyak dunia membuat penerimaan negara dari industri hulu minyak dan gas bumi (migas) pada kuartal III 2021, melampuai target yang ditentukan. 

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto mengatakan, penerimaan negara yang dihasilkan industri hulu migas pada kuartal III 2021 mencapai Rp 136,8 triliun dan telah melampaui target APBN 2021 yang ditetapkan sebesar 131 persen. 

“Kami bersyukur pada kuartal III 2021 ini, salah satu KPI (Key Performance Indicator) SKK Migas yakni penerimaan negara telah tercapai, bahkan melebihi target," kata Dwi secara virtual, Selasa (19/10/2021).

Menurutnya, optimalnya penerimaan negara dari hulu migas tidak lepas dari harga minyak dunia yang berangsur membaik, dan juga efisiensi kegiatan operasi hulu migas yang dilakukan.

"Dimulai pertengahan 2021, harga ICP (Indonesian Crude Price) mulai mengalami kenaikan hingga per September ini mencapai 72,2 dolar AS per barel. Kami berharap ini dimanfaatkan pelaku usaha hulu migas agar gairah investasi dapat kembali menggeliat setelah sempat lesu pada 2020 lalu," paparnya. 

“Tidak hanya harga minyak dunia, diprediksi harga LNG juga cenderung meningkat hingga kuartal I Tahun 2022, seiring dengan peningkatan kebutuhan energi dunia," sambung Dwi.

Untuk capaian lifting migas nasional per Kuartal III 2021 mencapai 1.640 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD) dengan rincian lifting minyak sebesar 661 ribu barel minyak per hari (BOPD), atau 93,8 persen dari target APBN yang ditetapkan untuk tahun ini 705 ribu BOPD. 

Sedangkan, lifting gas sebesar 5.481 MMSCFD (standar kaki kubik per hari) dari target APBN sebesar 5.638 MMSCFD atau tercapai 97,2 persen.

Baca juga: SKK Migas: EBT Belum Bisa Gantikan Energi Fosil Hingga 2050

Capaian lifting migas yang masih di bawah target, kata Dwi, disebabkan entry point awal 2021 yang rendah karena adanya beberapa kegiatan pengeboran dan onstream proyek 2020 yang tertunda akibat pembatasan mobilitasi manusia, dan peralatan akibat pandemi Covid-19.

“Kemudian terjadinya unplanned shutdown, terlambatnya kegiatan pengeboran akibat terkendala masalah perizinan dan pembatan mobilisasi, serta mundurnya beberapa onstream lapangan yang terjadi pada tahun 2021 ini," tutur Dwi.

Namun demikian, SKK Migas bersama KKKS terus melakukan upaya untuk meningkatkan lifting 2021 melalui optimalisasi produksi dengan perkiraan tambahan 3.000 BOPD, tambahan sumur pemboran dan work over dengan tambahan 500 BOPD. 

Penggunaan teknologi produksi dan debottlenecking dengan tambahan 500 BOPD, pengurasan stok dengan tambahan 1.800 BOPD, serta melalui crashed program dengan perkiraan tambahan 1.600 BOPD.

“Sedangkan untuk gas, kami akan melakukan optimasi penyerapan sehingga ada tambahan lifting 55 MMSCFD dan melalui optimasi operasi dengan tambahan 20 MMSCFD," ujar Dwi.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas