Tribun Bisnis

Agar Tahan Terhadap Krisis, Singapura Berencana Diversifikasi Energi

Singapura akan mengeluarkan request for proposals (RFP) untuk impor listrik dalam upayanya, yang mirip dengan pendekatan diversifikasi

Editor: Hendra Gunawan
Agar Tahan Terhadap Krisis, Singapura Berencana Diversifikasi Energi
Shutterstock
Ilustrasi Singapura. 

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA -- Pemerintah Singapura berencana untuk mengimpor hingga empat gigawatt (GW) listrik pada tahun 2035, atau sekitar 3 persen dari total pasokannya.

Menteri Perdagangan dan Industri Gan Kim Yong mengatakan pada hari Senin (25/10/2021), dalam upaya untuk mendiversifikasi pasokan dan meningkatkan ketahanan energi.

Negara-kota Asia itu akan memulai uji coba untuk menyelesaikan masalah teknis dan peraturan mengenai perdagangan listrik lintas batas, katanya, seperti rencana untuk mengimpor 100 megawatt (MW) listrik dari negara tetangga Malaysia dan 100 MW listrik tenaga surya dari Pulau Bulan di Indonesia.

Baca juga: Indonesia Disebut-sebut Sebagai Biang Krisis Energi di Singapura

"Uji coba ini memungkinkan kami untuk mempelajari dan meningkatkan sistem dan proses kami saat kami meningkatkan impor kami," kata Gan dalam pidatonya di acara Singapore International Energy Week.

"Kami juga akan mengimpor berbagai jenis energi rendah karbon dari berbagai belahan dunia untuk mendiversifikasi sumber kami dan meningkatkan keamanan energi."

Singapura akan mengeluarkan request for proposals (RFP) untuk impor listrik dalam upayanya, yang mirip dengan pendekatan diversifikasi sumber gas alam saat ini.

Sekitar 95% listrik Singapura dihasilkan dari gas alam, meskipun berencana untuk meningkatkan sumber energi terbarukan.

Baca juga: Krisis Energi Singapura Semakin Genting, Tiga Pengecer Listrik Gulung Tikar, Otoritas Bertindak

Transisi ke energi terbarukan, termasuk listrik impor, mungkin tidak berarti listrik lebih murah karena biaya transmisi, cadangan, dan peningkatan jaringan akan membengkakkan biaya, tambah Gan.

Singapura juga sedang mempersiapkan undang-undang untuk memberdayakan regulator energi Energy Market Authority (EMA) untuk memungut standar emisi pada perusahaan pembangkit listrik, katanya, tanpa memberikan rincian.

Selain impor listrik, Singapura sedang menjajaki solusi energi baru untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang dan mengurangi emisi.

Ini bertujuan untuk mendanai penelitian untuk meningkatkan kelayakan teknis dan ekonomi dari teknologi rendah karbon, seperti penangkapan, pemanfaatan dan penyimpanan hidrogen dan karbon (CCUS), kata Gan.

EMA bekerja sama dengan industri untuk menjajaki percobaan Gas Alam yang Diperkaya Hidrogen untuk bahan bakar pembangkit listrik yang ada, serta impor hidrogen rendah karbon.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas