Tribun Bisnis

Negara yang Tak Siap Antisipasi Perubahan Iklim Bakal Hadapi Krisis Energi, Indonesia Bagaimana?

China masih amat bergantung pada pasokan batubara, dan ketika pasokan kurang, negara itu mengalami shutdown di berbagai kawasan industri

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Choirul Arifin
Negara yang Tak Siap Antisipasi Perubahan Iklim Bakal Hadapi Krisis Energi, Indonesia Bagaimana?
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Ativitas excavator di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sintang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Senin (11/10/2021). PLTU Sintang menggunakan cangkang sawit untuk menghemat penggunaan bahan bakar batubara hingga 10 persen dengan metode co-firing. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, negara yang tidak siap dengan perubahan iklim, khususnya transisi ke energi terbarukan bakal mengalami krisis energi skala besar. 

Dia mencontohkan China, negara itu masih amat bergantung pada pasokan batubara, dan ketika pasokan kurang, negara itu mengalami shutdown atau mati listrik di berbagai kawasan industri. 

"Indonesia pun harus bersiap, beberapa tempat sudah langka solar. Krisis energi sudah membuat kinerja ekspor manufaktur dan impor terganggu," ujarnya melalui pesan singkat kepada Tribunnews, Kamis (28/10/2021). 

Selanjutnya, Bhima menjelaskan, data Baltic Dry Index menunjukkan penurunan tajam aktivitas logistik perkapalan secara global. 

Baca juga: Ekonom: Waspadai Dampak Krisis Energi, Harga Komoditas Akan Cenderung Naik

"Angkanya saat ini turun tajam 4.7 persen ke 4.056 kembali ke posisi September awal. Krisis energi memaksa pemadaman bergilir kawasan industri di berbagai negara khususnya China, Inggris, dan India," katanya. 

Baca juga: Energi Terbarukan, Solusi Hadirkan Listrik di Daerah Pedalaman

Menurut dia, situasi cukup memburuk karena jelang musim dingin dan pabrik tidak mampu memenuhi tingginya kebutuhan permintaan pasca ekonomi dibuka kembali. 

"Alhasil, aktivitas produksi pabrik mengalah terhadap rebutan energi dengan rumah tangga dan memutuskan mengurangi kapasitas produksi harian," pungkas Bhima.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas