Tribun Bisnis

Permintaan Kredit Tahun Ini Diyakini Bakal Melonjak, Berikut Faktor Pendorongnya

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, standar penyaluran kredit terus melonggar khususnya untuk kredit investasi dan modal kerja.

Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Permintaan Kredit Tahun Ini Diyakini Bakal Melonjak, Berikut Faktor Pendorongnya
ist
Gubernur BI Perry Warjiyo. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Permintaan kredit terus membaik sejalan dengan meningkatnya aktivitas korporasi dan rumah tangga pada awal tahun ini menjadi perhatian Bank Indonesia (BI).

Dari sisi penawaran, menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, standar penyaluran kredit terus melonggar khususnya untuk kredit investasi dan modal kerja.

"Seiring dengan menurunnya persepsi risiko kredit. Pertumbuhan kredit UMKM juga meningkat didorong oleh meningkatnya permintaan sejalan dengan pemulihan aktivitas dunia usaha serta dukungan program pemerintah," ujar Perry secara virtual pada Kamis (10/2/2022).

Baca juga: Pertumbuhan Kredit Bank BRI di Atas Industri Perbankan

Menurutnya, pemulihan kinerja korporasi diperkirakan berlanjut, yang tercermin dari berlanjutnya perbaikan penjualan dan belanja modal (capital expenditure).

Beberapa sektor menunjukkan kesiapan untuk memenuhi peningkatan permintaan khususnya sektor Komoditas dan Manufaktur.

"Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas lainnya di sektor keuangan untuk mendorong peningkatan kredit dan pembiayaan perbankan kepada dunia usaha, terutama dari sisi permintaan sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi," paparnya.

Baca juga: BICatat Kredit Modal Kerja Pada 2021 Tumbuh 6,1 Persen

Bank Sentral mencatatkan fungsi intermediasi perbankan terus membaik dengan pertumbuhan kredit sebesar 5,24% yoy pada Desember 2021 lalu.

Ketahanan sistem keuangan tetap terjaga dan intermediasi perbankan melanjutkan perbaikan secara bertahap.

"Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio / CAR) perbankan Desember 2021 tetap tinggi sebesar 25,67%, dan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tetap terjaga, yakni 3,00% (bruto) dan 0,88% (neto)," pungkas Perry. (Maizal Walfajri)

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas