Tribun Bisnis

Pasar Makin Terbuka, Kolaborasi Jadi Kunci Industri Asuransi Jangkau Market Lebih Luas

Sangat penting bagi seluruh industri asuransi memahami pentingnya mendapat kepercayaan dari masyarakat

Penulis: Choirul Arifin
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Pasar Makin Terbuka, Kolaborasi Jadi Kunci Industri Asuransi Jangkau Market Lebih Luas
istimewa
Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) sekaligus Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi 

Laporan Wartawan Tribunnews, Choirul Arifin

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAPresidensi Indonesia G20 2022 menyampaikan bahwa Indonesia berada pada titik krusial dalam proses pemulihan ekonomi nasional dan momentum ini perlu dimanfaatkan untuk mencapai target nasional, memprioritaskan pada transformasi ekonomi yang akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih maju termasuk pada industri asuransi.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) sekaligus Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi menegaskan, sangat penting bagi seluruh industri asuransi memahami pentingnya mendapat kepercayaan dari masyarakat di masa pemulihan ekonomi nasional ini.“ ujarnya pada 29 Maret 2022.

Pada kesempatan yang sama, di Konferensi 8th International Insurance Seminar yang digelar AAUI yang mengusung tema “Capturing Sustainability & Competitiveness: Response to
Global Change”, CEO BRI Insurance (BRINS), Fankar Umran menyampaikan, angka penetrasi dan densitas asuransi umum masih tergolong rendah.

Baca juga: Jadi Pusat Perbelanjaan Terbesar di Aceh, Suzuya Mall Ludes Terbakar Setelah Hampir 9 Tahun Berdiri

Data tahun 2021 menunjukkan insurance penetration rate hanya 0,47% sedangkan angka densitas asuransi sekitar Rp. 1,82 juta. Hal ini menunjukkan, white space bisnis asuransi umum masih terbuka lebar, suatu peluang pasar yang besar yang perlu mendapatkan perhatian pelaku industri asuransi.

Selain itu, seiring dengan perubahan consumer behavior dan meningkatnya risk awareness pada masyarakat, merupakan potensi untuk memperluas pasar sehingga industri asuransi turut berkembang dari waktu ke waktu dan dapat mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional.

Untuk mencapai hal tersebut, Fankar menyampaikan, kolaborasi menjadi kunci utama bagi industri asuransi umum, karena pasarnya sudah terbuka, perusahaan asuransi dituntut melakukan pengembangan pasar.

Baca juga: Prudential Resmi Dirikan Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah

“Bagaimana kita menjangkau pasar lebih luas. Untuk menjangkau pasar lebih luas pilihan terbaik adalah kolaborasi. Maka saran saya adalah perkuat kolaborasi, baik kolaborasi dalam ekosistem asuransi maupun dengan ekosistem bisnis lainnya. kolaborasi adalah wujud dari
berbagi bisnis sekaligus berbagi risiko," ujarnya.

Perusahaan asuransi dapat melakukan penetrasi secara masif dan efektif dengan berbagai skema.

Pertama adalah D2C (direct to customers) yaitu membuat aplikasi untuk kalangan
digital native. Namun, karena model pertama memiliki keterbatasan, maka perlu model kedua yaitu B2B (business to business).

Model ini merupakan kerjasama dengan institusi yang memiliki kanal supply chain yang memadai.

Selanjutnya, model B2B2C atau business to business to customers. model ini memungkinkan menjangkau customer lebih luas yaitu potensi customer yang merupakan bagian dari supply
chain perusahaan atau institusi.

Dengan model bisnis B2B2C customer dapat dijangkau baik secara konvensional maupun secara digital.

Fankar juga menegaskan bahwa pelaku industri asuransi juga perlu memiliki produk yang fit yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat melalui produk yang customize, produk yang Adaptive, Affordable, dan Accessible (Triple A).

“Jadi marketnya sangat luas, tetapi
menjangkaunya tidak mudah, maka harus kolaborasi," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Fankar sekaligus menyampaikan terimakasih kepada OJK karena program-program relaksasi yang dikeluarkan OJK sangat membantu industri asuransi
melalui masa-masa sulit pandemi. 

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas