Tribun Bisnis

Idul Adha 2022

Peternak Keluhkan Zona Merah PMK, Sulitkan Pendistribuan Hewan untuk Idul Adha

Aturan lockdown di wilayah zona merah dikhawatirkan akan terjadi kendala dalam pendistribusian hewan kurban yang telah dibeli para pekurban,

Editor: Choirul Arifin
zoom-in Peternak Keluhkan Zona Merah PMK, Sulitkan Pendistribuan Hewan untuk Idul Adha
WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Warga melihat hewan kurban yang dijual di Kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, Minggu (26/6/2022). Aturan lockdown di zona merah penyakit mulut dan kuku (PMK) dikeluhkan oleh peternak karena menyulitkan mereka dalam mendistribusikan hewan ternak mereka, terlebih menjelang Hari Raya Idul Adha. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Adanya aturan lockdown di zona merah penyakit mulut dan kuku (PMK) dikeluhkan oleh peternak karena menyulitkan mereka dalam mendistribusikan hewan ternak mereka, terlebih menjelang Hari Raya Idul Adha.

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Nanang P. Subendro mengatakan, untuk pembelian hewan kurban biasanya dilakukan pembayaran uang muka atau pelunasan sebelum ternak didistribusikan.

Adanya lockdown di wilayah zona merah dikhawatirkan akan terjadi kendala dalam pendistribusian hewan kurban yang telah dibeli para pekurban,

"Hewan kurban biasanya baru distribusikan 1 hari samapi 3 hari menjelang pemotongan. Kalau nanti dengan adanya zonasi ini tidak diizinkan lalu lintas ternak di zona merah padahal kita tahu Jawa itu sudah merah semua."

"Jadi seperti apa kita mohon arahan petunjuk, jangan sampai momen yang sama sekali ini kita tunggu-tunggu ini berbuah malapetaka yang kita tidak inginkan," ungkap Nanang dal Diskusi Virtual 'Kurban Aman di Tengah PMK', Minggu (3/7/2022).

Selain itu, PPSKI juga meminta adanya solusi dari hewan kurban yang telah dibeli oleh Shohibul Qurban namun di tengah masa tunggu terpapar PMK.

Baca juga: Pemerintah Kabupaten Kediri Terima 16.400 Dosis Vaksin Penyakit Mulut dan Kuku

Ia menyebut tingkat mortalitas hewan ternak yang terpapar PMK tinggi pada sapi berjenis limosin, simental dan sapi perah, atau sapi berjenis besar.

"Sapi-sapi besar sapi-sapi jumbo justru sangat rentan sekali untuk proses kesembuhannya paling sulit. Kalau sapi Madura sapi Bali dalam pengalaman saya relatif lebih mudah untuk disembuhkan, tapi untuk sapi-sapi yang gemuk besar begitu karena itu sudah kiamat," ungkapnya.

Baca juga: Penyakit Kuku dan Mulut Mewabah, Ini Tips Bagi Masyarakat Sebelum Mengonsumsi Daging Kurban

Dengan adanya inovasi kurban online, Ia mengakui ada sedikit solusi bagi pelaksanaan kurban di tengah situasi PMK.

Melalui kurban online Shohibul Qurban dapat memilih hewan kurban secara daring dari ternak yang dipasarkan.

Langkah ini juga dapat mengurangi potensi tersebar luasnya virus PMK, karena pembeli hewan kurban berpindah-pindah dari kandang satu ke lainnya.

Baca juga: 1.356 Ekor Hewan Ternak di Kabupaten Cirebon Terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku

"Banyak hewan kurban yang sudah dibeli selama masa tunggu terinfeksi PMK. Banyak sekali kejadian hewan kurban sudah deal, tinggal pengiriman tetapi dalam masa tunggu terpapar PMK dan tidak bisa diselamatkan ini banyak sekali di berbagai macam tempat. Ini yang juga butuh penyelesaian," ujar Nanang.

Permasalahan lainnya yang dihadapi peternak dengan situasi PMK ialah, bagi peternak menengah besar yang menggunakan kredit perbankan terancam gagal bayar. Maka dibutuh kebijakan dari pemerintah akan hal ini seperti relaksasi kredit.

Terbatas dan lambatnya vaksin PMK menjadi tantangan yang dihadapi dalam penanganan PMK. Nanang menggambarkan kini situasinya ialah antara vaksin dan virus PMK saling kejar-kejaran kecepatannya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas