Tribun Bisnis

Inggris Masuk Jurang Resesi, Berpotensi Picu Stagflasi

NIESR menyatakan, resesi ekonomi membuat pendapatan warga Inggris yang dapat dibelanjakan turun 2,5 persen dan 7 persen di bawah tingkat pra-Covid-19.

Penulis: Mikael Dafit Adi Prasetyo
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Inggris Masuk Jurang Resesi, Berpotensi Picu Stagflasi
dok. NIESR
National Institute of Economic and Social Research (NIESR) menyatakan, akibat resesi ekonomi, rata-rata pendapatan penduduk Inggris yang dapat dibelanjakan akan turun 2,5 persen dan tetap 7 persen di bawah tingkat pra-Covid hingga 2026. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, LONDON – Perekonomian Inggris saat ini telah masuk ke dalam resesi yang diakibatkan oleh melonjaknya inflasi.

Dilansir dari Business Times, Rabu (3/8/2022) National Institute of Economic and Social Research (NIESR) menyatakan, rata-rata pendapatan penduduk Inggris yang dapat dibelanjakan akan turun 2,5 persen dan tetap 7 persen di bawah tingkat pra-Covid hingga 2026.

"Ekonomi Inggris sedang menuju ke periode stagflasi dengan inflasi tinggi dan resesi yang memukul ekonomi secara bersamaan," kata Stephen Millard, wakil direktur makroekonomi NIESR.

Menurut NIESR, resesi yang dimulai pada kuartal ini diperkirakan akan berlanjut hingga awal tahun 2023.

Akibat resesi ini, jumlah rumah tangga yang hidup dari pendapatan mereka diperkirakan akan naik hampir dua kali lipat menjadi 7 juta pada tahun 2024.

Angka tersebut termasuk 5,3 juta rumah tangga yang tidak memiliki tabungan sama sekali.

Baca juga: Hong Kong Masuk ke Jurang Resesi Untuk Kedua Kalinya Sejak Protes Massal Tahun 2019

NIESR juga menyebut penduduk golongan itu akan dipaksa untuk berutang karena tagihan energi yang melonjak.

Di sisi lain, para ekonom mengatakan kedalaman krisis akan memaksa pemerintah untuk merespon dan menunjukkan tujuan yang pasti diperlukan daripada pendekatan manajemen keuangan di masa lalu.

Baca juga: Ancaman Resesi Buat Aktivitas Manufaktur di Eropa Berkontraksi

Sebuah lembaga penelitian, think tank menyarankan pemerintah Inggris untuk memberikan bantuan kepada orang-orang yang rentan dalam menghadapi inflasi harga konsumen yang dikatakan akan naik hampir 11 persen tahun ini.

Sementara itu, inflasi harga eceran yang digunakan untuk menetapkan kenaikan tarif kereta api dan biaya bunga pemerintah, diperkirakan akan mencapai 17,7 persen.

Millard melihat bahwa bank sentral Inggris (BoE) akan memproyeksikan kenaikan suku bunga menjadi 3 persen tahun depan. Sedangkan pengangguran akan naik di atas 5 persen karena permintaan turun.

Kenaikan Suku Bunga Bank Sentral Inggris

Sebelumnya, bank sentral inggris diprediksi akan memperketat kebijakan moneternya dengan mempercepat peningkatan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin.

Langkah ini diambil Inggris menyusul The Fed yang telah lebih dulu mengerek naik suku bunga acuannya, guna menghambat laju inflasi.

Baca juga: Daftar 15 Negara yang Terancam Resesi, Indonesia di Urutan 14

Namun, karena harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) Inggris per Juni 2022 telah melesat 9,4 persen, membuat sejumlah analis percaya bahwa bank sentral Inggris akan kembali menaikan suku bunganya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas